PUISI PUISI SEM HAESY
Friday, November 6, 2009 1:38
Léttré
(kepada almarhum ayah)
kudengar sunyi memanggil manggil
di bawah cahaya rembulan
kukunjungi makammu
bersimpuh aku duduk di sini
di sisi pusara wangi melati
seberkas cahaya memantul dari pualam nisan
ah… bayang wajahmu
sunggingkan senyum
kukenangkan nasihat terakhirmu
tentang keikhlasan menjalani kehidupan
tentang cara yang benar
menyikapi setiap gerak irama angin
dan lesat cahaya mentari di siang hari
tentang keteguhan bersikap
tentang keberanian hidup
tentang kiat dan siasat
menjemput maut
yang kan datang setiap saat
kecendekiaan adalah pilihan
jalan pena adalah jalan utama
jalan senjata hanyalah madya
jalan kebimbangan terkapar nista
sukmaku bergetar mengucap do’a
cahaya rembulan memancar
bias berkasnya jatuh di pusaramu
bersama angin malam
tak akan pernah hilang kebanggaanku padamu
tak hanya kebanggaan
seorang anak kepada ayahnya
oo.. aku kian amah di hadapan pusaramu
insan istiqomah. teguh pendirian
konsisten pelihara sikap. konsekuen menghidup tekad
bergetar bibir ini mengucap do’a
izinkan bersumpah:
menjaga terus ajaranmu
teguh tegak di jalan kebenaran
yang kuyakini
di pusaramu aku bersumpah
memandu anak anakku melangkah
ke jalan kebenaran yang mereka yakin
(Banten, 2003)
Perempuan
Siapakah perempuan?
Daripadanya kita melangkah memasuki misteri
Tanpa harus melewati bingkai-bingkai nyata
Yang kita tempatkan di seluruh beranda dan kamar tidur
Rumah peradaban kita
Pernahkah kita berfikir tentang mereka
Tentang bagaimana mereka harus ditempatkan
Di dalam irama kehidupan kita?
Perempuan adalah keperkasaan yang sengaja disembunyikan
Lantaran keperkasaannya adalah magma terus gembara dengan gelegaknya
Sekali sekala membuncah lahar menembus lapi bumi
Sekali sekala merontokkan batu gunung
Tanpa mereka kita selalu sulit mencari makna hakiki
Atas setiap aksara bertulis: semangat dan keberanian
Perempuan adalah akal budi bersulam pekerti
Hampar tenun kasih sayang dan tanggung jawab
Yang selalu sengaja dimasukkan ke dalam tempurung misteri
Tempat mereka sansai tanpa daya
Tempat air mata mengalir dan sedih memburaiu
Pada mereka segala perasaan dibebankan
Segala pengertian diwajibkan
Padahal pada mereka selalu kita dapatkan makna
Atas hakekat keadilan dan kearifan
Yang kita curi kesetaraannya
Perempuan adalah angin menderu di samodera luas
Memacu perahu kehidupan melaju
Menantang siapa saja
Menguji keberanian melawan badai kehidupan
Merekalah angin misteri di luar empirisma kita
Yang kerap diturunkan Tuhan ‘tuk selamatkan palksa
Ketika seluruh sendi perahu sukma kita
Porak peranda di terjang badai dan puting beliung
Siapakah perempuan
Sudah seberapa jauh kita mengenalinya
Dalam kesungguhan pengertian
Kedalaman pemahaman
Siapakah perempuan
Seperti bagaimanakah gerangan mereka?
Di tatap pandang nanar kita
Melihat dunia berubah musim berganti
Tak pernah henti
Siapakah perempuan?
Bagaimanakah kita menghargainya?
Perempuan adalah angin menderu
Mengantar kita ke bukit-bukit zaman
Mengantar kita menapak di puncak-puncak dunia
Dalam pelukan kasih sayangnya
Kita tenggelam laksana bayi dalam buaian
Sepanjang sejarah peradaban
Merekalah hulu kehidupan kita
Mereka juga muara kehidupan kita
Pada merekalah kita memahami
Cinta bermakna
Jadi hidup hakiki
Karena merekalah kita mengerti
Makna kasih sayang yang tak usai sudah diselami
Dalam kelembutan sapa mereka
Kita peroleh jutaan makna
Yang sering secara sengaja kita abaikan
Dalam ketulusan dan keikhlasan kasih sayang mereka
Nafsu berubah jadi cinta
Cinta berubah jadi nafas kehidupan kita
Siapakah perempuan
Yang dalam belai lebut jemari mereka
Kita lena menghitung masa berlalu tak lagi mengenal kata dan angka
Yang di dalam sandar kepalanya
Kita menggerai tirai menuliskan asa di masa yang akan tiba
Di atas hampar keikhlasan cintanya
Kita melangkah
Mengunjungi gelanggang pertaruhan
Menguji keberanian dan keperkasaan
kepadanya kita kembali
setiap kali kalah
menghadapi tantangan menghadang
pada cermin nurani kesadaran
tuhan menghadirkan perempuan
karena pada mereka Tuhan menitipkan kegaiban
dan diam-diam kita disadarkan:
Tuhan sengaja mencipta perempuan
Laksana sungai-sungai misteri kebajikan
Yang tak pernah bisa dijangkau
Hingga seluruh batas empirisma lumat dalam pukau
Dan kita tak pernah bisa sepenuh kecerdasan
Memahami keperkasaan yang Tuhan berikan
Meski hanya sesaat seketika sekejapan
Dan kita seringkali hanya pandai menggambarkan mereka
Laksana bunga-bunga penebar wewangian Tuhan
Tanpa pernah paham
Melalui mereka Tuhan meletakkan harumnya marwah dan darajah
Yang bisa seketika mengubah segalanya
Kepada mereka kita meminta keikhlasan
Selepas lunglai dilumat penghianatan
Perempuan selalu memberi dengan sedikit meminta
Karena merekalah yang dicipta dan dipilih Tuhan
Menjadi ibu kehidupan
Tempat Dia menyimpan kasih sayang
Perempuan adalah cakrawala
Yang padanya membentang bianglala
Keindahan yang memegahkan kaki langit
Tempat Tuhan mengalirkan keindahan-Nya
Perempuan adalah fatamorgana
Memantulkan gelombang realitas jadi ilusi dan fantasi
Ngembara jadi imajinasi
Memantulkan kesetiaan matahari
Tempat kita harus selalu menguji diri
Mengeja kefasihan
Atas makna harapan dan impian
Kepada merekalah kita selalu datang
Mencari seluruh makna dari setiap ketidak-tahuan kita
Menemukan kepandiran berselimut kuasa bersimbah kata
Maka tak ada lagi yang boleh diperdebatkan
Muliakanlah mereka
Karena pada merekalah kemuliaan diletakkan Tuhan
Hormatilah mereka
Karena pada merekalah kehormatan dipertaruhkan
Sayangilah mereka
Karena mereka dicipta sebagai mata air kasih sayang
Mengalirkan cinta tanpa hati
Menyediakan kasih sayang tak berbilang
Menghimpun daya kehidupan dan penghidupan
Lindungilah mereka
Laksana hutan melindungi mata air
Laksana cakrawala melindungi samodera
Tempat Tuhan menyimpan perlindungan
Dalam dekap kasih sayang sejak dalam kandungan
Suntinglah mereka
Karena Tuhan mencipta dan memilih mereka
Sanding kehidupan tak tertanding
Mitra seiring jalan menembus gelap remang
Melenggang di jalan terang
Tempat kita menemukan hakekat makna bahagia dan derita
Dalam berbagi cerita berbagi rasa
Tempat kita semestinya pulang
Membawa segala yang Tuhan hidangkan
Merekalah cahaya
Yang ujung berkasnya menukik tajam ke seluruh rongga sukma
Kristal-kristalnya menghidupkan kesadaran kita
Untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu
Jangan pernah sisihkan mereka dari seluruh relung kehidupan kita
Tempatkan mereka pada tempat di mana seharusnya mereka ada
Jadikanlah mereka cermin
Tempat kita mengenali diri
Mencari kedalaman makna
Tentang siapakah kita sesungguhnya?
Perempuan adalah tirai misteri Tuhan
Tempat kita selalu ditantang menjawab tanya:
Di manakah batas ketiadaan dan keberadaan kita
Perempuan adalah rumah keabadian
tempat kenyamanan dan kegelisahan
dipertautkan
dan harmoni dipelajari tak berkesudahan
tempat kita belajar tentang anak dan keturunan
tempat kita belajar tentang pengasuhan dan kemaafan
Perempuan adalah pilar-pilar
Tempat kemuliaan dan harmoni kehidupan ditegakkan
Tempat surga dititipkan
Dan neraka disembunyikan
(Jakarta, 8 Januari 1994)
Maklumat 2009
Angin mabuk.
Memagut laut
Banteng mengamuk di Beringin bergayut
O… mentari aneka rupa
Rembulan punggung-punggungan
Bintang diperberutkan
Siapa sengaja penggal leher Garuda kita?
Arah jalan terbentur ambisi
merebut kuasa semata
Siapa mereduksi rumah Tuhan?
Rosario ditawarkan antara dupa,
padi kapas dan merah merona darah.
Siapa lagi yang sengaja dikorban?
Bila tak rakyat terhuyung di jalan gelap?
Di panggung-panggung kampanye
Janji diumbarkan, impian ditebarkan
Ilusi disemaikan
Dan semua terjerembab dalam
Fantasi kelam.
Igauan para pemabuk
pemburu kursi kuasa.
Di jaman ekonomi berguncang
dan moral jadi pecundang
Akal direndahkan
politik akal-akalan
Hati ditunggangi, nurani dihinakan
Lihatlah alan-alan melenggang cekikikan
Menuju kursi parlemen di senayan
Lihatlah para kembang latar bersiasat
Merancang sandiwara
merampas asa rakyat berdaulat
Tanah airku.
Angin mabuk.
Memagut laut.
Tanah airku. Negeri igauan.
Cakrawala gelap impian.
Mengharap garuda terbang tanpa sayap
Mengharap banteng mendengus tinggal belulang
Merah putih jadi salur uraian pelangi warna warni
Orang-orang mabuk menggombal petani
Siapa menggelepar ayan di perahu nelayan?
Meletakkan angan di keluh buruh
Bulan-bulanan para wartawan
Menulis igauan di gumpal awan
O… riuhnya tanah airku
Musuh berkawan menggempur lawan
Dosa silam menyulam kelam
Akan bagaimanakah tanah air kami?
O… anehnya tanah airku
Tanah tumpah punya siapa?
Air muncrat, milik siapa?
O… ironisnya tanah airku
Rakyat melarat biar sekarat
Politik uang menyayat sayat
Di sudut-sudut kota di pinggiran desa
Politisi gamang jalan bergoyang
Orang depresi melayang-layang
Ayo kawan rapatkan barisan
Hadang bersama barisan beruang
Sebelum daulat terhempas dan terbuang
Karena kita rakyat, kita yang berdaulat
Jangan rendahkan segala harkat
Jangan dengarkan mereka
Pembuat hidup jadi melarat !!
(Jakarta, April 2009)
Puih !!
Angin duduk meracau tentang demokrasi
Bulan mabuk sempoyongan
Di malam usai pemungutan suara
Panas membara
Datang dari dendam yang dipelihara
Tidak bisakah kita berbicara tentang gelombang laut?
Saling berkejaran dalam irama harmoni
Mengikuti gelombang
Riuh rendah
Pasang surut
Angin duduk bercerita tentang
Barisan pemabuk
Berprosesi menjadi para narsis
Memasang wajah mereka di sudut kumuh kota
Dan rakyat bagai gelombang
Menyaput seluruh jumawa
(Jakarta, 2009)
Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.







