Memilih Pembantu Utama

Friday, November 6, 2009 1:37
Posted in category Imagineering

JANGAN pernah memilih pejabat yang akan membantu kita melaksanakan amanat berdasarkan firasat.  Ali bin Abi Thalib yang berjuluk ‘gerbang ilmu pengetahuan’ memberi nasehat seperti itu. Maksudnya adalah: proses memilih pejabat harus dilakukan berdasarkan sistem dan prosedur yang terukur. Jadi, dalam melakukan fit and proper test atas mereka, berlaku key performance indicators.

Indikator kinerja menjadi syarat yang utama dalam melakukan penilaian. Pilihan yang dilakukan hanya berdasarkan firasat atau naluri semata, sebagaimana pernah berlangsung di negeri ini, dalam pandangan Ali bin Abi Thalib, tidak akan membuahkan amanah sedikitpun. Fakta yang bertebaran di sekeliling kita membuktikan hal itu. Berapa banyak pejabat yang dipilih berdasarkan firasat, akhirnya mengakhiri jabatannya di terali besi.

Hampir bisa dipastikan, penilaian yang hanya didasarkan oleh firasat, tidak lebih baik dibandingkan dengan penilaian berbasis kinerja. Karena itu, Ali bin Abi Thalib menasehati, “Ujilah mereka dengan pekerjaan yang telah dikerjakan orang-orang saleh sebelumnya. Pilihlah yang terbaik, supaya mereka dapat memberikan pengaruh kepada rakyat. Perkenalkan sikap amanah kepada mereka, karena itu adalah bukti arahanmu untuk orang yang engkau angkat”.

Apabila dipahami dengan seksama, nasehat tersebut mengisyaratkan pentingnya penilaian atas track records dan perkembangan kinerja setiap calon pejabat yang akan diangkat. Pemimpin yang diberikan kelebihan oleh Allah sebagai talent scoutt, dengan instrumen yang dipergunakannya, dapat memilih secara obyektif siapa saja yang layak dan patut menjadi pembantu utamanya. Karena memilih pejabat (apalagi pejabat tinggi) pada dasarnya, merupakan tindakan mengangkat penanggung jawab untuk setiap pekerjaan besar.

Nilai kepercayaan yang diberikan seorang pemimpin kepada pembantu utamanya, tidak dapat dibandingkan dengan apapun. Karena kepercayaan itu merupakan modal besar bagi setiap pejabat yang diangkat untuk menunjukkan kompetensi di bidangnya. Oleh sebab itu, menurut Ali bin Abi Thalib, mereka yang berkompeten, tidak akan mundur oleh beratnya pekerjaan yang diberikan kepadanya. Tidak pula kewalahan karena banyaknya tugas yang diberikan kepadanya. Mereka tak akan membuat aib bagi yang memilih dan mengangkatnya.

Kompetensi

ALI bin Abi Thalib menasehatkan, dalam memilih pejabat sebagai pembantu utamanya, seorang pemimpin mesti menerapkan sistem yang baik. Kemudian kelak, membantu mereka melaksanakan tugasnya dengan arah, komando, instruksi, dan kontrol yang baik pula. Melalui evaluasi yang sistematis, akan terseleksi siapa yang sungguh melaksanakan pekerjaan dengan baik. Siapa pula yang cenderung tidak memikul tanggung jawabnya.

Lembaga-lembaga tanggung jawab berbasis kinerja — baik pemerintahan maupun perusahaan –, menuntut figur-figur yang kompeten dan bertanggung jawab. Mereka menjalankan tanggung jawabnya secara wajar, jelas, bertanggung jawab, mandiri, dan dapat mempertanggung jawabkan pekerjaannya kapan saja. Mereka melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dengan keteraturan, disiplin, dan damai. Karena mereka tidak berpotensi melakukan tindakan buruk, aib, secara sengaja atau tidak sengaja.

Walaupun demikian, dalam melakukan penilaian atas berbagai figur yang akan diangkat menjadi pembantu utamanya, seorang pemimpin juga mesti menerapkan prasyarat lain. Yaitu, kesehatan fisik dan mental, termasuk tipe-tipe kejiwaannya. Kesehatan fisik diperlukan agar setiap pejabat yang diangkat dalam melaksanakan tugas sesuai dengan waktu yang telah disepakati. Kesehatan jiwa diperlukan, selain untuk mengetahui korelasi kompetensi, tipe kejiwaan, dan daya kerja dalam melaksanakan tugas, juga untuk menciptakan harmonitas kinerja kolektif.

Inspirasi tentang bagaimana melakukan fit and proper yang kita dapatkan dari Amiril Mukminin Ali bin Abi Thalib, menarik dan relevan untuk diterapkan dalam bidang dan sektor apapun. Khususnya untuk mendapatkan kualitas talent dalam mengemban amanah yang diberikan kepada mereka. Hal ini, di masa kini, berkaitan dengan pakta integritas untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab sesuai dengan amanat. Kita percaya, proses rekrutmen yang dilakukan dengan sistem demikian, akan membawa kebaikan dan maslahat bagi umat. Insya Allah [ sem ]

 

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.