HIDUNG
Friday, November 6, 2009 1:40
PADA sebuah perhelatan, kusaksikan wajah saudara-saudaraku. Kutatap hidung mereka. Indah-indah. Ada yang bangir, runcing, dan elok. Tidak begitu dengan hidungku yang besar mengembang. Seolah belahan ‘jambu air’ yang ditemplokkan begitu saja ke wajahku.
Ketika kecil, pernah kutanyakan pada almarhum ibu, ihwal bentuk hidungku yang berbeda dengan hidung saudara-saudaraku. Ibu hanya bilang, “Kamu mesti bangga, karena hidungmu menyerupai hidung kakekmu”. Perkataan ibu sedemikian menggembirakan. Apalagi, ketika masih sangat bocah, setiap hari Jum’at sering berkunjung ke rumahku, peminta-minta yang kehilangan hidung, akibat kecelakaan. Akibatnya, nampak rongga hidung yang sedemikian mengerikan.
Tak hanya itu, peminta-minta yang kusebut ‘Polo Polo’, itu memang nampak mengalami kesulitan saat bernafas. Sejak itu, seringkali bentuk hidung menggoda fikiranku. Ketika berangkat remaja, aku karib dengan seorang bomoh (paranormal). Aku senang sekali, setiap kali mendengar dia memberi nasihat pada client-nya yang berhidung besar seperti hidungku.
“Wah, Anda berbakat menjadi orang besar dan mempunyai rezeki meruah”, begitu kalimat yang sering dia sampaikan, acap bertemu client-nya yang b erhidung besar.
Belakangan, kucoba fahami, hidung tak hanya menjadi bagian dari indra manusia untuk mencium dan mengendus: membedakan wangi dan bau. Secara konotatif, seringkali hidung dihubungkan dengan perangai tak elok. Umpamanya hidung belang. Julukan ini sering diberikan kepada lelaki yang suka mempermainkan perempuan, alias pria tuna susila (pts).
Hidung juga sering dijadikan istilah untuk menggambarkan eksistensi manusia secara fisikal. Karenanya, sering kita mendengar kalimat, “Bagaimana sih si Fulan, sudah wayah gini belum kelihatan batang hidung-nya”. Bisa juga dengan kalimat lain yang lebih aksentuatif, “Sejak kasus pembunuhan itu terbongkar, ia tak nampak lagi batang hidung-nya”.
Pernah juga saya dengar kalimat, “Dia itu sungguh beruntung. Ketika Presiden terpilih sedang menyusun kabinetnya, yang nampak hanya batang hidungnya. Jadilah dia menteri, sekarang”. Seolah-olah hidung memang berhubungan dengan nasib dan peruntungan.
Dalam banyak kesempatan lain, hidung bermakna konotatif dan denotatif sekaligus, untuk menggambarkan keadaan seseorang: “Tengok hidungnya sudah memerah, sebentar lagi dia akan terserang flu”. Dalam kalimat lain, boleh jadi kita pernah mendengar kalimat,” Aku tak tega menyaksikan kesedihannya, saat hidungnya telah nampak meleleh”.
Ketika merenungkan tentang hidung, seringkali saya tiba pada pemahaman fungsi anatomis sedemikian strategis, sebagai alat bernafas. Pelajaran ilmu hayat ketika bocah, masih melekat, bagaimana hidung berhubungan langsung dengan pernafasan dan paru-paru. Melalui hidunglah manusia menghirup udara segar saat bernafas, dan membuangnya melalui mulut.
Suatu malam, selepas menghantarkan hidung ke lantai saat bersujud, saya pandangi hidung saya. Saya tertegun, saat melihat posisi hidung dalam keseluruhan komposisi indra di wajah. Oo.. manusia memang masterpiece ciptaan Allah. Masterpiece yang sekaligus mengekspresikan: Allah Maha Indah dan senantiasa menyukai keindahan.
Coba bayangkan, bagaimana rupa manusia, ketika hidung tak diletakkan persis di tengah wajah, di bawah mata di atas bibir, berada pada jarak yang sama di antara dua daun telinga. Saya terpana beberapa saat, ketika menyadari, selama ini tidak terlalu banyak menggunakan hidung untuk mengendus kebajikan yang ditebar Allah. Akibatnya, hidung sering tertipu oleh wewangian parfum dunia. Bukan wewangian surga. |
Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.







