TPI dan Gelinjang Industri Pertelevisian

Friday, November 6, 2009 1:46
Posted in category Klap

JANGAN kaget bila mendengar ada stasiun televisi yang dinyatakan pailit oleh pengadilan, seperti yang dialami TPI (Televisi Pendidikan Indonesia). Tapi, boleh jadi tak akan ada stasiun televisi yang tutup ! Paling sial, berganti nama, mengikuti bergantinya kepemilikan, baik secara head to head : company to company, maupun business to business (melalui konsorsium atau holding company). Semboyan the show must go on akan terus dipegang, meski mengalami finance bleading.

Industri pertelevisian, merupakan industri ‘bergelinjang’ yang ‘rawan gempa’. Tiba-tiba bisa terjadi up and down sacara fluktuatif. Melejit dan merosot sedemikian rupa.  Apalagi, sejarah industri pertelevisian di Indonesia (di luar TVRI tentu), dipacu oleh semangat komersialitas para pebisnis non media.

Habit bisnis industri pertelevisian adalah padat modal, dan terikat oleh perkembangan dinamika industri lain, dan perekonomian global. Selalu dihadang oleh kemungkinan pailit karena terlibat utang atau menjadi korban financial games, dengan beragam alasan dan kepentingan.

Agaknya, inilah yang mengemuka beberapa hari terakhir, saat terpercik berita TPI (Televisi Pendidikan Indonesia) terjebak perseteruan sejumlah perusahaan investasi, ihwal utang piutang modal.  Apalagi, pada masa pertumbuhannya, stasiun televisi, ini sangat karib dengan commercial paper dan berbagai instrumen hutang piutang, dan financial arrangement scheme lainnya.

Numpang pada pengalaman perkembangan Marconi ke Telstar, industri pertelevisian kita memang harus melakukan restrukturisasi minda (mindset) secara menyeluruh. Apa yang dialami oleh TPI, adalah contoh kongkret betapa financial games dalam industri ini dapat berbuah pailit. Tak mustahil, kondisi ini akan dialami oleh stasiun televisi lainnya.

Artinya, industri pertelevisian Indonesia, mesti kembali ke karakternya yang spesifik: efisien dengan teknologi terbaru dan program low cost, serta berani menentukan pilihan  core program, sehingga tv share tidak lagi flat seperti sekarang ini. Metro TV sudah memilih jalannya yang spesifik, dan diikuti oleh TV One meski nampak masih meraba-raba arah dan tujuan. SCTV sudah pula memilih jalan tepat dengan mix moderat content, ketika memasuki teknologi digital. Bisa diduga, SCTV akan menjadi stasiun yang akan paling berhasil membentuk mix audience loyality, baik secara demografis maupun psikografis. Seperti halnya Trans TV Corp nampak mulai berhasil menunjukkan kekuatannya sebagai variety show television, yang lebih efisien.

Lembaga penyiaran televisi berbasis komersial, memang harus memilih core program-nya masing-masing. Multikulkturalitas dan pluralitas pemirsa televisi di Indonesia, merupakan area luas untuk menentukan pilihan berpijak. Masing-masingnya mempunyai ceruk pasar yang menarik, ketika semuanya menyadari, bahwa yang dijual ke pasar iklan adalah bilangan populasi khalayak sasaran. Karenanya, spesifikasi program menjadi penting.

Alhasil, seluruh pengelola stasiun televisi di Indonesia mesti merekonstruksi ulang business mindset-nya, berbasis khalayak pemirsa, termasuk perubahan minda tata kelola keuangan dan bisnisnya. Merujuk Robert H. Coddington, eksekutif TV di Amerika, untuk mengatasi keadaan terburuk (seperti kasus yang dialami TPI) yang ditimbulkan oleh  TV finance problem, adalah musyawarah.

Ya, cara itu tentu harus dibarengi dengan penguatan manajemen yang menguatkan posisi TPI, bukan sebaliknya. Coddington mengingatkan, tipikal pemilik tv untuk bermain di area ‘unrelated to broadcasting‘ sangat riskan. Mereka harus mengubah minda yang sesuai dengan broadcasting industry. Investasi memang harus dilindungi, profit memang harus didapat. Selain dengan aturan bisnis yang tepat, juga oleh kepiawaian mengelola industri ini dengan broadcast management yang tepat.

Sebagai bagian dari ‘sejarah TPI’, saya berharap, TPI segera terbebas dari kondisi tersulit dan menyebabkan demotivasi  sumber daya kreatifnya.  Tempatkanlah lagi mereka pada tempatnya yang tepat dan benar untuk terus menghidupkan segak TPI.  Pemilik TPI perlu insan kreatif yang paham betul tagline: makin Indonesia, makin asyik aja..½ N. Syamsuddin Ch. Haesy, Jurnal Nasional, (Minggu: 25 Oktober 2009)

 

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.