Tak Perlu Masuk Wilayah Sensitif
Friday, November 6, 2009 1:50
WAJAH perfilman nasional ke depan, agaknya belum banyak berubah. Masih akan didominasi oleh film-film ‘hiburan sekadar hiburan, ‘ laiknya sinetron. Kalaupun akan ada film-film yang bermisi edukasi, boleh jadi bilangannya dapat dihitung jari sebelah tangan. Iklim perfilman nasional kita, dari masa ke masa memang cenderung berpusar pada kecenderungan yang dari itu ke itu saja.
Rencana melibatkan Miyabi (Maria Ozawa), bintang porno asal Jepun dalam produksi film nasional – yang mendapat protes keras – adalah contoh kasus, bagaimana kecenderungan komersialisme masih sedemikian kuatnya. Meski, katakanlah, bintang porno itu tidak akan tampil bugil dalam film yang akan dibintanginya, semestinya perusahaan film yang berniat mengontrak Miyabi mafhum, keberadaan artis Jepun itu akan menimbulkan masalah. Apalagi UU Anti Pornografi masih dipahami secara multi tafsir.
Sebenarnya, produser film nasional tak usah berfikir yang ‘neko neko’ untuk memburu tujuannya komersialnya dalam mengisi jagad hiburan di negeri ini. Banyak cara bisa dilakukan dengan mengeksplorasi potensi artis Indonesia. Banyak pula gagasan bisa dikembangkan dan dikemas sebagai hiburan yang normal-normal saja.
Film Get Married 2, Preman in Love, Selendang Rocker, bisa disebut sebagai contoh, hadirnya film yang normal-normal saja, sehingga tidak perlu beraneh-aneh. Kalau bisa menghadirkan film yang normal-normal saja, mengapa harus masuk ke dalam wilayah sensitif? Karena salah-salah, memang bisa dituding sengaja memancing keributan.
Wilayah Sensitif
APA salahnya produser film kita menyadari realitas sosial, bahwa sebagian terbesar masyarakat Indonesia merupakan kaum muslim. Masyarakat yang terikat oleh dimensi nilai akidah yang melarang berbagai hal yang berkaitan dengan syirik dan laku kehidupan yang merusak akhlak. Jadi, sebenarnya, meski lolos sensor, tak perlu mereka masuk ke dalam wilayah sensitif.
Film Paku Kuntilanak (yang melibatkan bintang Hollywood pinggiran Heather Storm), Setan Budeg, dan Susuk Pocong, adalah contoh film-film yang saya nilai mencoba masuk ke dalam wilayah sensitif. Apalagi film Maling Kutang, yang cenderung hanya merupakan film hiburan ampang. Padahal sineas cerdas kita telah mampu melahirkan film-film cerdas, termasuk film animasi Meraih Mimpi.
Kita tidak melihat banyak manfaat yang didapat masyarakat dari film-film ampang tersebut. Apalagi film Menculik Miyabi, yang akan melibatkan Maria Ozawa. Melibatkan bintang porno itu hanya karena pertimbangan, bahwa Miyabi mempunyai fans lebih dari sejuta orang, tentu bukanlah sikap yang bisa ditoleransi.
Lepas ada protest dari FPI (Forum Pembela Islam) atau tidak, saya memandang, melibatkan artis pornografi Jepun dalam produksi film nasional merupakan tindakan ceroboh dan bebal. Bahkan boleh dikata merupakan tindakan akal-akalan dari sineas yang tak mempunyai kemampuan kreatif untuk membuat film cerdas. Hanya sineas yang tidak kreatif yang memilih jalan pintas komersialisme dengan cara-cara demikian.
Di tengah kehidupan sosial kemasyarakatan yang sedang mengalami banyak masalah dan berbagai peristiwa duka yang sedang melanda bangsa ini, sikap segelintir ‘tukang membuat dan memproduksi film’ semacam ini, memang menyebalkan. Jadi, sangat pantas bila rencana tak cerdas (yang mengekspresikan lemahnya daya kreatif) mereka mendatangkan artis porno dari Jepun itu beroleh reaksi. Kita boleh sependapat dengan pandangan Ida Kusuma, artis senior kebanyakan film komedi Indonesia, yang melihat sikap itu sebagai tindakan yang tidak memahami realitas budaya kita sesungguhnya.
Ida Kusumah benar, jangankan mendatangkan artis porno dari Jepun, artis kita terperosok ke lembah film ‘porno’ saja kita merasa ternoda. Jadi, jangan hanya memikirkan sejuta orang yang menjadi fans Miyabi, karena jumlah mereka yang menolak film film pandir jauh lebih banyak dari itu lagi.
Beranjak dari pandangan itu, kita sepakat dengan pandangan pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Medan, yang jelas-jelas menolak proses pembuatan film Menculik Miyabi . Sikap sutradara film Menculik Miyabi, di Pizza Hut Sarinah beberapa waktu berselang, yang menyatakan, ” “Sampai sekarang baru MUI Medan yang menyatakan tidak akan mengizinkan film Menculik Miyabi untuk diputar di daerahnya,” kita anggap sebagai sikap pandir dalam mengabaikan reaksi masyarakat.
Jangankan menerima kehadiran Miyabi untuk bermain dalam film itu, menyaksikan Fahrani berpose toples untuk filmnya Perjaka Terakhir, saja banyak kalangan sudah bereaksi negatif. Rani yang pernah berhasil dalam Radit dan Jani, memamerkan punggungnya yang penuh tato. Di film arahan sutradara Arie Azis, itu Rani berperan sebagai Sigi, gadis tomboy yang berprofesi sebagai anggota kelompok penagih hutang.
Kita ingatkan kepada seluruh tukang pembuat film untuk tidak main-main di wilayah sensitif masyarakat. Berusahalah menjadi sineas kreatif yang mampu menghasilkan film-film cerdas. ½
Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.







