Neo Duryudana di Ujung Peralihan
Tuesday, April 13, 2010 9:53MALANG benar nasib Duryudana. Sosok lelaki bersenjata gada, ini dalam cerita wayang dihadirkan sebagai manusia berperangai tak elok. Meski cerdas cemerlang, dan mampu berfikir baik, tapi bengal. Serakah, cedera janji, dan tak tahu kebaikan.
Dia juga ambisius menjadi raja paling berkuasa di jagad raya. Dia senior dalam kancah politik praktis Korawa, dan sempat berkuasa. Karenanya, gelar Prabu pun disandangnya. Dalam menjalankan kepemimpinannya, dia menyediakan diri sebagai ‘kemudi’ atas Arya Sengkuni, pamannya, adik Drestarestra, ayahnya.
Duryudana bermata telengan dengan hidung agak mancung tapi dempak. Berjambang tiga susun dengan garuda berpraba: besar membelakang. Aksesorisnya memikat: kalung ulur-ulur, bergelang, berpontoh, berkeroncong pertanda makmur dan kaya materi. Ia berkain bokongan kerajaan, berbatik motif parang rusak barong, pakaian para bangsawan alias orang besar.
Posturnya jangkung dan gagah, meski agak sedikit bungkuk. Retorikanya saat berbicara, cukup memikat, mengesankan dirinya sebagai tokoh Korawa pilih tanding. Pikirannya taktikal. Ia pandai mencari cara dan celah mengalahkan Pandawa, sampai terjadi Perang Bratayuda. Termasuk mengumpulkan para cerdik cendekia menghimpun kekuatan strategis dengan hasrat berkuasa ‘yang disembunyikan’. Ia memang pandai membungkus kepentingan praktis – pragmatis dengan idealisme dan perjuangan ideologis.
Di medan tempur Bratayudhau, dia bertanding dengan Werkudara alias Bima. Kalah tapi tak mau terkalahkan. Ia baru sungguh teruk, saat Werkudara menyerimpung kelemahannya, atas informasi Kresna. Di abad global, cerita tak berhenti di situ.
Mereka yang terkalahkan saat pilih tanding, lalu membentuk kekuatan baru di tengah kondisi partai politik yang tak usai mengalami masa transisi. Memilih cara dan celah: jalan pintas menuju kekuasaan. Merobohkan etika dan fatsoen politik, melalui perselingkuhan dan penghianatan, sebagaimana berlaku atas Bomanarakasura.
Putera pasangan Batara Wisnu dengan Batari Pertiwi, yang mulanya baik ini akhirnya kerasukan jahat sejak membunuh Bomantara. Bomanarakasura yang semasa muda bernama Raden Suteja, ini pernah menjadi jagoannya para dewa untuk mengatasi keangkaramurkaan Prabu Bomantara dari Kerajaan Trajutrisna. Namun, ia berubah sifat. Untuk itu dia tega membunuh adiknya sendiri: Raden Sumbu, yang didapatinya tengah berselingkuh dengan permaisuri Dewi Hagnyanawati, penyebab perang Gojali Suta.
Neo Duryudana berbasis perangai Bomanarakasura, agaknya akan menjadi pemicu peristiwa politik menarik di pentas perubahan bangsa ini, menyongsong 2015. Munas dan Kongres partai politik yang berlangsung belakangan hari, menunjukkan kondisi demikian. Suatu keadaan yang memungkinkan riuhnya pentas politik di penghujung usainya peran generasi peralihan. Mereka yang dilahirkan pada dekade 30 – 50 an, yang sudah mulai lelah untuk pilih tanding.
Neo Duryudana semacam inilah yang kemudian akan melahirkan generasi Bomawikata dari Korawa yang tersesat dan tiba-tiba menjadi tokoh yang disegani lantaran menunggang barongan dan sempat menggentarkan Pandawa. Namun, akhirnya mati terbunuh panah Arjuna. Bisa juga melahirkan generasi Brama, penguasa api yang menitiskan nasab ideologis kepada cucunya: Wisanggeni, yang tak henti menggugat kekuasaan para dewa. Generasi berkarakter Brajalamatan, Brajamusti, dan Brajawikalpa, yang ikut barisan pemberontak Pandawa, lalu tewas ditumpas Gatotkaca.
Soalnya tinggal, siapakah kelak yang akan tampil sebagai Gatotkaca? Inilah pertanyaan bagi petinggi partai politik dalam menjalankan fungsi utamanya melakukan kaderisasi dan pendidikan politik bagi rakyat. Bukan sekadar barongan yang menjadi tunggangan para pemburu kekuasaan semata. | Jurnal Nasional, Senin: 12 April 2010
One Response to “Neo Duryudana di Ujung Peralihan”
Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.








astrid says:
April 16th, 2010 at 3:06 am
Neo Duryudana. Maksudnya siapa kira-kita. Kelihatannya banyak sekali ya yang seperti ini.