Tanah di Bawah Hak Sepatu
Friday, April 30, 2010 12:19TANAH yang menempel di bawah hak sepatu, tak boleh ikut masuk ke dalam rumah. Selain akan mengotori lantai ruangan di dalam rumah, tanah itu juga akan menjadi noda yang membuat rasa tak nyaman. Husain Mazahiri, seorang intelektual muslim, menggunakan istilah ‘tanah di bawah hak sepatu’ untuk menjelaskan ihwal kesedihan, kesusahan, kemarahan, dan egoisme lelaki dalam menjalani kehidupan keluarganya.
Apapun jenis tanahnya, di manapun tanah itu menempel di bawah hak sepatu, tidaklah penting. Karena yang terpenting adalah bagaimana membersihkan tanah di bawah hak sepatu setiap kali akan masuk ke dalam rumah. Karena itulah para isteri sangat care untuk selalu meletakkan keset di depan pintu rumah, agar rumah selalu dalam keadaan bersih.
Mona tersenyum simpul, ketika hal itu disampaikan salah seorang pamannya, saat memberikan nasihat pernikahan di hari pernikahannya. Sebaliknya, Moha, sang suami tertegun. Menyerap petuah itu masuk ke dalam benaknya. Usai seluruh rangkaian upacara pernikahan berlalu, di kamar pengantin yang wangi, Mona bilang pada Moha, “Ingat lho ya, bersihkan dulu tanah di bawah hak sepatumu sebelum masuk rumah”.
Mereka tersenyum sambil beradu pandang. Moha suka dengan canda sang isteri. Ia segera mengecup kening Mona. “Ya, akan selalu kubersihkan tanah di bawah sepatuku sebelum masuk rumah. Makanya, jangan pernah lupa meletakkan keset di depan pintu,” balas Moha. Lalu, keduanya melabuhkan cinta dan asmara mereka di malam pertama dengan kemesraan dan kehangatan.
Ya… ya.. ya ! Malam pertama dalam kepungan pengharum kamar pengantin beraroma remah rempah kaum aristokrat, itu mereka akhiri dengan sukacita yang tak bisa dilukiskan dengan aksara dan kata. Ketika usai shalat Shubuh pertama sebagai suami isteri, keduanya mengikat komitmen untuk mewarnai rumah tangga mereka dengan segala hal yang cerdas, bersih, dan penuh akhlak.
Sepakat dengan nilai-nilai kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, berbuah rahmah, Mona dan Moha, mengikat kesepakatan, bahwa segala hal yang berada di luar rumah tak boleh mengganggu kehidupan rumah tangganya. Keduanya sama sepakat untuk menjadikan rumah tangga mereka bukan sebagai tempat mencurahkan kesedihan, kesusahan, kemarahan, dan egoisme.
Empati dan simpati akan menjadi sudut pandang keduanya, sehingga rumah tangga, akan menjadi taman persemaian suka cita, optimisme, kasih sayang, dan kesaling-mengertian, dalam keadaan apapun. Tak peduli susah maupun senang. Tak peduli saat cuaca mendung atau terang benderang.
Gejolak angin dan badai dan gelombang masalah di samodera kehidupan, tak boleh memengaruhi keduanya dalam mencapai tujuan hidup bersama, yang telah ditentukan sebelum akad nikah dan ijab kabul berlangsung. Moha berkomitmen pada dirinya, tak akan menampakkan kesedihan dan kesusahan, serta kepelikan hidup setiap kali tiba di rumah. Mona, berkomitmen: selalu menyambut suami pulang ke rumah dengan senyum dan sukacita.
Akhlak karimah, mereka pilih sebagai fundamen kuat untuk memaknai hakekat jodoh pemberian Allah SWT melalui ikhtiar yang bersungguh-sungguh. Etika kehidupan rumah tangga yang dibangun di atas keyakinan, bahwa pilihan untuk menikah merupakan keputusan tepat. Tak hanya berdasarkan pertimbangan naluriah, melainkan juga berdasarkan pertimbangan logika, rasa, dan indria.
Fase awal kehidupan rumah tangga memang fase saling menyesuaikan diri. Untuk itu, Mona dan Moha memilihnya sebagai momentum historis membangun komitmen bersama: mewujudkan harmonitas saling memuliakan. ½ N. Syamsuddin Ch. HAESY
Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.







