Mengembangkan Pers Cerdas, Segar, dan Bijak
Friday, April 30, 2010 12:21N. Syamsuddin Ch. Haesy*)
A. Pengantar
BERBEDA dengan pers Amerika yang lahir setelah bangsa itu merdeka dan melepaskan dirinya dari Inggris, Pers Indonesia hidup, tumbuh, dan berkembang bersamaan dengan perkembangan perjuangan – revolusi kemerdekaan Indonesia. Pers Indonesia berkembang bersamaan dengan berkembangnya Republik Indonesia.
Sejak diberlakukannya Undang Undang tentang Pokok Pokok Pers[1] hingga Undang Undang No. 40/1999 tentang Pers, esensi Pers Indonesia adalah pers perjuangan kebangsaan. Asas-asas kebebasan pers dalam konteks kemerdekaan pers[2] diselenggarakan mengikuti perkembangan masyarakatnya. Pers diposisikan sebagai bagian tak terpisahkan dari keseluruhan masyarakat dan bangsa secara sosiologis, politis, dan ekonomis.
Baik di masa lalu, kini, dan mendatang, peran pers Indonesia tak pula bisa dilepaskan dari tugas fungsional dan profesionalnya sebagai institusi kemasyarakatan yang bertanggungjawab terhadap kecerdasan masyarakat. Karena di dalam pers terkandung fungsi informasi, edukasi, re – kreasi[3], dan kontrol sosial.
Dalam konteks perkembangannya sebagai industri, pers tak bisa membebaskan dirinya dari hukum dan kaidah ekonomi – bisnis, yang tidak hanya berurusan dengan kata-kata, melainkan juga angka-angka. Industri pers berhubungan dengan berbagai komponen industri yang saling berkait. Mulai dari perbankan, industri kertas, industri grafika, industri periklanan, dan jasa distribusi produk pers. Kesemua itu, berhubungan langsung dengan pasar, dan karenanya dikelola juga berdasarkan pertimbangan-pertimbangan pasar.
Dalam konteks itulah, maka pers Indonesia, kini dan di masa depan semestinya memusatkan perhatian pada upaya-upaya asasi atau focal concern, meliputi:
- Berkembangnya kecerdasan masyarakat untuk melakukan partisipasi kritis, aktif, dan korektif terhadap penyelenggaraan negara, pemerintahan, pembangunan, dan pemberdayaan masyarakat, dalam konteks pencapaian kondisi masyarakat madani yang demokratis dan beradab;
- Berkembangnya akal budi masyarakat dan bangsa, sehingga mampu melakukan proses transformasi budaya di tengah perkembangan peradaban global ;
- Berkembangnya dialektika pemikiran masyarakat dan bangsa untuk mengembangkan sains dan teknologi;
- Berkembangnya perekonomian masyarakat dan bangsa berbasis kewirausahaan (entrepreneurship).
Berdasarkan focal concern tersebut, pertumbuhan dan perkembangan pers kini dan mendatang, tak bisa dilepaskan kaitannya dengan berbagai kekuatan pendorong (driving forces), meliputi:
- Sumberdaya manusia pers yang cerdas, kreatif, visioner, profesional, produktif, dan berwawasan luas, yang merupakan kualifikasi insan pers sebagai intelektual;
- Kemampuan mengelola keuangan dan sumberdaya ekonomi pers secara efisien dan efektif, serta kemampuan mengelola manajemen bisnis selaras dengan prinsip-prinsip industri;
- Nilai-nilai budaya dan religi yang melandasi akal budi dan budaya kerja sebagai bagian dari dimensi peradaban manusia modern; dan
- Kemampuan mengelola sains dan teknologi, serta memanifestasikannya dalam penyelenggaraan pers sebagai bagian tak terpisahkan dari perubahan masyarakat – bangsa;
B. Pers yang Cerdas dan Segar
TERLALU banyak teori tentang pers yang cerdas dan segar telah dikembangkan oleh banyak pakar dan praktisi, baik di tingkat dunia maupun domestik. Karena pers yang cerdas dan segar, merupakan bagian dari idealistic frame (kerangka idealistika) masyarakat yang beradab. Namun demikian, ketika hendak dikaji lebih mendalam, esensi dari pers yang cerdas dan segar, pada ghalibnya merupakan pers yang berpijak pada intelektualitas.
Secara umum dapat dikatakan, bahwa pers yang semacam itu, berpijak pada fatsoen dan akhlak yang jelas dan terang benderang. Yaitu: Obyektif, Akurat, Transparan (jelas), Berkepribadian (Integritas), Bertanggungjawab, Akuntabel, Komunikatif, dan Inovatif. Pers yang selain konsisten menyajikan berbagai informasi aktual, juga menyajikan berbagai gagasan baru tentang berbagai hal. Pers yang dapat menjadi sumber motivasi khalayaknya untuk melakukan proses perubahan dan pembaruan secara tepat dan benar.
Dalam bahasa agama, Islam khususnya, pers semacam ini harus memenuhi kriterium: amanah (dapat dipercaya), shiddiq (berpijak dan konsisten berorientasi kepada kebenaran), fathonah (cerdas), dan tabligh (komunikatif). Untuk memenuhi kriterium ini, maka pers yang cerdas harus merupakan produk intelektualitas dan profesionalitas. Pers yang dikelola secara bersungguh-sungguh sebagai medium transformasi peradaban.
Secara spesifik, pers yang cerdas merupakan pers yang menyajikan berbagai informasi edukatif dan memberikan ruang pengembangan dayacipta kepada khalayaknya. Mengomunikasikan dan mentransformasikan gagasan-gagasan kreatif dan baru yang mendorong proses perubahan tata minda (mindset) khalayaknya.
Pers yang mampu memprediksi dan memproyeksikan perkembangan kondisi masyarakat dan bangsa di masa depan, dengan menghadirkan beragam realitas hari ini secara obyektif, sebagai pijakannya. Pers yang ketika menyajikan fenomena sosial dan kultural masyarakat dan bangsanya di hari ini, sekaligus mendorong khalayaknya untuk melakukan perubahan multidimensional secara paradigmatik.
Akan halnya pers yang cerdas, adalah pers yang secara obyektif menyajikan informasi dan realitas kekinian secara aktual. Pers yang selalu mampu membuka ruang-ruang aktualisasi diri yang positif, dengan tetap berpijak pada prinsip-prinsip hukum dan etika profesional yang melandasinya. Pers yang secara sadar memosisikan dirinya sebagai medium publik yang memfasilitasi berkembangnya pemikiran-pemikiran kritis. Pers yang memainkan peran sebagai motivator bagi khalayaknya untuk belajar keras, bekerja cerdas, bersikap tangkas, dan bertindak bernas dalam menyikapi berbagai dimensi perubahan.
Dari sudut pandang kearifan lokal, pers yang semacam itu bisa dikatakan sebagai pers yang memenuhi deskripsi imaginatif sebagaimana medium pencerahan. Yaitu, pers yang menawarkan harapan yang terukur dan jelas parameternya, sehingga mampu menjadi ruh perubahan untuk membentuk masyarakat untuk berkeunggulan. Pers yang memungkinkan masyarakatnya mempunyai human and nation dignity.[4]
Dalam pandangan Sidney W. Head, pers yang cerdas dan segar, adalah pers yang mampu menjadikan khalayaknya sebagai subyek atas peristiwa. Antara lain, dengan memainkan perannya sebagai medium yang mempunyai kapasitas menghadirkan realitas pertama kehidupan sosial — ke dalam realitas kedua yang jernih – melalui narasumber yang kapabel terhadap peristiwa atau gagasan yang disajikannya.[5]
Dengan demikian, menurut Head, pers berpotensi memberikan pengaruh sosial yang luas kepada masyarakat, melalui khalayaknya. Antara lain dengan menyajikan fakta atas peristiwa secara tepat dan benar, analisis yang jernih dan menawarkan solusi (serta alternatif terbaik), serta mendorong kebersamaan (soliditas dan solidaritas) masyarakat mengatasi berbagai masalah yang dihadapinya.
*) Makalah, disampaikan pada Seminar Sehari Fakultas Agama Islam dan FISIP Universitas Mathla’ul Anwar, tentang Peran dan Tanggungjawab Pers dalam Pembangunan Etika Bangsa, Sabtu: 21 Maret 2009 di Aula UNMA Banten – Cikaliung, Saketi, Pandeglang – Banten.
[1] UU No. 11/1966 dan UU No. 21/1969 tentang Pokok Pokok Pers
[2] Pada masanya disebut sebagai Pers bebas bertanggungjawab dan kemudian disebut juga sebagai pers pembangunan.
[3] Bukan sekedar rekreasi yang cenderung dipahami sebagai hiburan, melainkan re – kreasi atau pendorong berkembangnya proses pengembangan dayacipta masyarakat.
[4] Paling tidak seperti terdeskripsikan dalam jangjawokan Banten: “Sumega-sumega bulan kadi bulan opat belasna. Degdeg kayu eudag karaton nabi Sulaeman. Ngadeleu kahareup sieup, ngadeuleu katukang haying, ngadeuleu kagigir blencik. Maksieup kana peunteu, maka asih kana pipi. Awaking rayu asihan, wong sajagad kabeh asih ka awaking” untuk mencapai kualifikasi hidup utama, cadu ka madya jeung nista.
[5] Full Professor and Chairman the Departement of Radio – Television – Film at the University of Miami, Florida, USA dalam A Framework for Pers Strategies, 1984.
Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.







