Praduga
Friday, April 30, 2010 12:24Nicko duduk mencangkung di sudut beranda kamar tempat kos-nya. Malam baru saja rebah. Gundah menyergapnya sejak beberapa hari. Dari kamar kos yang tak begitu rapi, terdengar tembang cantik Cahaya Seribu Berliku yang biasa didendangkan Sitti Nurhaliza. Kegundahan itu menyelinap di seluruh rongga dadanya, sejak sepekan menonaktifkan selulernya.
Di kejauhan, bermil-mil jaraknya, pada sebuah kota di timur Indonesia, Nicke gelisah tak sudah. Kesedihan dan kemarahan membuncah-buncah di hatinya. Rasa kesal menyeruak, membuat kepalanya pusing. Sejak sepekan Nicko tak mengaktifkan selulernya Nicke sungguh senewen. Ia kehilangan informasi dan berita tentang Nicko, suaminya. Beragam asumsi dan praduga negatif menari-nari di benak dan perasaannya. “Kekonyolan apalagi yang sedang menghinggapi suamiku?”
Kecamuk perasaan yang menjelma menjadi asumsi dan praduga negatif itu, tak bisa dihindari Nicke. Ia tak sadar, bahwa Nicko menonaktifkan selulernya, sejak Nicke dengan gencar mengirimkan ratusan sms yang mencerca dengan beragam dugaan kelam. Nicke tak menyadari, sikap Nicko menonaktifkan selulernya hanya sebagai reaksi atas aksi yang dilakukannya.
Kepada Bunda, ibu yang sangat berpengaruh kepada Nicko, Nicke mencoba mengungkap alasan, semua sms yang gencar dikirimkannya, dan melukai Nicko, sesungguhnya hanyalah ekspresi cinta belaka. Nicke sangat kuatir kehilangan Nicko, yang dalam asumsinya sering membuat banyak perempuan terpikat.
Hidup yang terpisah jarak, menyebabkan Nicke kerap memandang ekspresi kecemburuan sebagai bukti cintanya terdalam kepada Nicko. Terutama kecemburuannya kepada seorang perempuan – sepupu dua kali Nicko – yang beterang-terang mengungkapkan rasa kagum dan sayangnya pada Nicko. Kecemburuan itulah yang menyebabkan Nicko kesal dan marah. Karena, bila kecemburuan Nicke tak terkontrol, bisa merusak hubungan persaudaraan yang terbangun sejak masa remaja.
Nicke bertahan dengan sikapnya: ekspresi kecemburuan seorang istri adalah bukti cinta. Meski cara mengekspresikannya di luar ambang batas kewajaran. Bagi Nicko, yang menggantungkan hidupnya dengan otak dan memerlukan ketenangan, sikap dan cara Nicke mengekspresikan kecemburuan bukan sebagai bukti cinta. “Cinta saling menguatkan dan bukan menghancurkan,” tulisnya, terakhir kali melalui sms sebelum menonaktifkan seluler.
Perbedaan persepsi dalam ‘membuktikan cinta’ antara Nicko dan Nicke, boleh jadi, merupakan potret buram yang amat mengganggu komunikasi keduanya. Padahal, ketika Nicko berulang tahun, Nicke sempat menghadiahkan lukisan tangan sendiri. Perahu melancar di atas gelombang, ikan-ikan berenangan, kecipak air membuncah.. menuju pantai, tempat harta karun bernama asa, diletakkan.
Nicko memandangi lukisan tangan Nicke. Reflek, jemarinya mengaktifkan kembali selulernya. Ia menghubungi Nicke. “Meem.. I love you,” ujarnya. Nicke tergetar. Ia tak sanggup menjawab. Air matanya netes. Inilah sesungguhnya bukti cinta keduanya. Bukan kecemburuan berlebihan.. |
Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.







