Melintasi Duka

Thursday, May 27, 2010 8:07
Posted in category Cermin

HUSNA terhenyak. Ia menarik nafas, sambil menyandarkan tubuhnya di sofa. Jemarinya menekan tombol remote control. Pesawat televisi yang tengah menayangkan sinetron buruk: mencitrakan perempuan Indonesia secara black and white, itu pun off seketika. Ia menarik nafas panjang. Matanya memandang kosong ke arah pesawat televisi yang membisu.

Gundah sedang menyergap Husna. Perempuan cantik dan  cerdas ini, baru saja menghadapi masa storm und drang: angin dan badai. Usai bercerai dengan Amru, ia seolah tak henti dirundung malang. Ayah yang selama ini menjadi ‘sandaran’-nya wafat. Ia segera menerima tanggung jawab ayahnya untuk merawat ibunya yang sakit dan membantu adik-adiknya menyelesaikan studi. Beberapa bulan lalu, ibu yang dikasihinya pun wafat.

Di rumahnya, kini hanya tinggal bersama pembantu rumah tangga saja. Allah belum memberikan amanah, buah hati yang bisa mengisi waktu kala sunyi. Karenanya, masa cuti yang sedang dialaminya, nyaris terasa ‘hening’.

Husna jarang mengambil cuti. Pekerjaannya di salah satu maskapai penerbangan, sangat ketat. Meski lebih banyak mengurusi berbagai pekerjaan di ground, agendanya sangat padat. Apalagi kini, ketika arus penerbangan internasional ke berbagai penjuru dunia, sedang mengalami kenaikan.

Husna beranjak dari sofa menuju kamar, ketika tiba-tiba telepon berdering. Ia terhenyak beberapa saat. Di ujung telepon, Zaenab, adik bungsunya menyampaikan kabar tak sedap. Husin, adik kesayangannya, yang baru akan mulai bekerja beberapa hari, masuk rumah sakit. Musibah menghampirinya di salah satu ruas jalan tol.

Husna segera bergegas ke rumah sakit. Ia dapati Husin di ruang gawat darurat. Dokter menunggunya untuk mengambil tindakan medis: operasi. Tanpa pikir panjang, Husna menanda-tangani persetujuan atas tindakan medis yang amat berisiko itu. Lalu berusaha menenangkan adik-adiknya: Hasan dan Zaenab yang nampak begitu gusar.

“Tenanglah. Kalian tunggu di sini, kakak menyelesaikan dulu berbagai urusan administrasi,” ujarnya, lalu bergegas.

Hasan dan Zaenab kagum pada kakaknya yang bertanggung jawab itu. Mereka tak habis fikir, bagaimana Husna bisa setenang itu menghadapi masalah yang bertubi-tubi. Keduanya tahu, kakaknya itu bukanlah seorang yang mempunyai banyak uang.

Belum lagi segala urusan administrasi diselesaikan, selular Husna berdering. Zaenab meminta dia segera bergegas ke ruang gawat darurat. Husin telah menghembuskan nafas terakhirnya, sebelum sempat melalui tindakan medis. Kesedihan menyergap ketiga saudara ini. Husna memandu adik-adiknya mengurus jenazah.

Husna meminta kepada polisi yang masih menunggui Husin yang mengalami musibah kecelakaan lalu lintas, itu membantunya menyelesaikan berbagai surat keterangan dan berita acara kecelakaan. Dalam situasi semacam itu, Husna pun masih sempat mengatasi eksplosi batin Maisyarah, kekasih almarhum Husin. “Kita mesti ikhlaskan seluruh peristiwa ini. Mari kendalikan diri,” ujarnya sambil memeluk dan membelai kening Maisyarah.

Kesedihan karena kehilangan orang-orang terkasih, menggerogoti ketabahan dan kesabaran Husna. Hasan dan Zaenab segera bergegas cepat, lalu membawa pulang almarhum Husin ke rumah. “Kita tidak bisa menolak, ketika ajal datang berkunjung dan menjemput abah, umi, dan kini Husin. Tapi, kita harus yakin, di balik semua ini, Allah sedang menyiapkan kita perubahan hidup yang lebih baik,” serunya.

Duka baru saja berlalu. Husna menerima jaminan kecelakaan lalu lintas dari perusahaan jasa asuransi. Ia mengajak adik-adiknya untuk tegar. “Kini kita tinggal bertiga. Kita harus optimistis menjemput kebahagiaan yang tersimpan dalam rahasia Allah. Yakinlah tentang hal itu,” katanya. | N. Syamsuddin Ch. Haesy

 

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.