Terima Kasih Honey, Terima Kasih

Thursday, May 27, 2010 8:18
Posted in category Cawandatu

HUMAIRA mengulas senyumnya. Sambil membaca buku kesukaannya, ia menyandarkan tubuhnya di bahu Hasan, suaminya. Sedang Hasan sedang menikmati tayangan televisi yang menayangkan film dokumenter tentang pengeboran minyak lepas pantai.

Film itu menggambarkan kesibukan para pekerja memasang bor. Hasan ikut merasakan suasana batin para pekerja itu. Bahkan, ia merasakan suasana hati sang super intenden dalam film dokumenter, itu ketika memberi aba-aba untuk memulai pengeboran.

Adegan demi adegan berlangsung. Di penghujung film nampaknya pengeboran itu berhasil. Minyak menghambur. Para pekerja sangat sigap menguatkan seluruh mur dan baut pipa. Tempik sorak berlangsung. Kebahagiaan nampak di wajah mereka.

Hasan ikutan bahagia dan meresonansi suasana itu. Humaira berhenti membaca sesaat. Ia tersenyum menyaksikan wajah Hasan yang nampak bahagia itu.

“Duh, senangnya..,” goda Humaira.

Tanpa diminta Hasan bercerita. Dia bilang, kebahagiaan tak bisa dilukiskan dengan kata-kata, ketika pengeboran berhasil. Keberhasilan itu, selain membuat seluruh keletihan berakhir. Keberhasilan dalam pengeboran minyak merupakan buah kerja cerdas, kerja keras, dan kerja cermat. Suatu proses kerja yang memerlukan ketelitian dan ketekunan.

Dalam proses pengeboran awal, mereka dihadang oleh berbagai kemungkinan. Meski telah melalui proses penelitian yang panjang, tak selamanya proses pengeboran berhasil mendapatkan minyak. Tak sedikit yang gagal. “Dalam proses pengeboran terjadi pertarungan yang luar biasa, karena kita dihadapkan oleh pilihan kecemasan bila pengeboran gagal. Atau suka cita ketika pengeboran berhasil,” seru Hasan.

Lelaki keren yang cerdas, itu melanjutkan. “Bila gagal, mereka harus bekerja lebih keras dan lebih teliti lagi untuk memperoleh hasil yang memuaskan. Dan bila berhasil, sukses, mereka masih harus bekerja keras melakukan kerja lanjutan,” serunya.

“Bagaimana dengan keselamatan kerja?” tanya Humaira.

“Keselamatan kerja adalah bagian yang paling utama dalam seluruh proses pengeboran. Itulah sebabnya, seluruh standar operating procedures, termasuk pilihan teknik dan teknologi menjadi sangat penting dan utama,” seru Hasan.

“Wah, kalau tak siap mental untuk selalu berperang dengan diri sendiri, gak mudah dong bekerja di pengeboran?” tanya Humaira selanjutnya.

Hasan tersenyum. Dia melirik wajah isterinya. Tatap pandangnya merasuk sampai ke dasar hati Humaira.

“Ya,… mereka yang bekerja di anjungan pengeboran minyak dan gas bumi, merupakan manusia-manusia andal yang harus mampu mengendalikan dirinya. Memerangi egoisme dan mesti berpegang teguh pada seluruh standard operating procedures,” ungkapnya.

Intinya adalah pengendalian diri dalam menguatkan sinergi, sehingga seluruh elemen mampu memusatkan perhatian mencapai hasil yang optimal dan terbaik. Sinergitas dengan pengendalian diri baik dalam fase perencanaan maupun eksekusi di lapangan, menjadi inti seluruh proses kerja itu.

Humaira menyimak cerita dan penjelasan Hasan. Ia tersenyum, ketika Hasan menjelaskan, bahwa proses kerja semacam itu memang memerlukan kesadaran dan tanggung jawab kolektif. Baik untuk menyatukan pikiran dan hati, maupun untuk mengembangkan kebersamaan kolektif dalam memberikan kontribusi terhadap hasil kerja terbaik.

“Tak hanya kesabaran dan ketekunan. Proses kerja di pengeboran juga memerlukan keberanian mengendalikan dan menghindari risiko. Semua berpangkal pada ketaatan terhadap seluruh asas kerja,” serunya.

“Apa itu asas kerja?” tanya Humaira.

“Landasan dasar melaksanakan pekerjaan. Yaitu, komitmen dan tanggung jawab untuk memproduksi hasil terbaik yang berkualitas. Termasuk efisiensi dan efektivitas,” seru Hasan.

Humaira kian tekun menyimak, ketika Hasan mengemukakan, kadang dalam kekecewaan kolektif timbul oportunitas yang menjanjikan harapan baru. Harapan yang mesti direncanakan. “Dalam hal inilah setiap pekerja di lingkungan industri ini lebih banyak mesti berperang dengan dirinya sendiri. Lengah sedikit saja, justru akan menimbulkan kecewa. Bahkan bisa berakibat fatal,” ungkapnya.

Humaira memeluk hangat Hasan. Dalam kemesraan tanpa kata-kata, ia mentransformasi asa dan do’anya dari lubuk hati terdalam. Ia bangga dengan Hasan. Suami yang sangat menyayanginya dan sangat care terhadap keluarga. Diam-diam, di dalam hatinya, Humaira berkomitmen untuk selalu berusaha memelihara situasi dan kondisi harmonis di dalam keluarganya.

“Aku bangga padamu,.. sangat bangga,” seru Humaira sambil mengecupkan bibirnya di pipi Hasan. Kehangatan ia rasakan, ketika Hasan mendekapnya erat.

“Aku berterima kasih, selama ini kamu telah sangat banyak berkontribusi untuk ketenanganku dalam bekerja,” seru Hasan. Pasangan suami isteri yang harmonis, itu lantas menghabiskan malamnya dengan keindahan. “Terima kasih, honey.. terima kasih,” seru Humaira dalam desah yang indah. |

 

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.