Mengeja Akhlak dalam Filsafat Tiongkok

Tuesday, April 3, 2012 18:09:: 244 views ::
Posted in category Cakrawala

N. Syamsuddin Ch. Haesy

MENGAPA Rasulullah Muhammad SAW menganjurkan setiap muslim menuntut ilmu hingga ke negeri Cina (uthlbul ilma wa law bitstsiin)? Ada apa dengan Cina? Dalam studi filsafat Timur, Cina yang juga dikenal sebagai Tiongkok, merupakan wilayah tempat berpusat dan berkembangnya filsafat Timur.

Studi filsafat di Eropa, meletakkan filsafat timur yang berpusat di Tiongkok, seperti urai A.V Zenker (1950), telah berkembang jauh sebelum filsafat Hindu dikenal dalam proses transformasi peradaban manusia.  Selama dua abad (dari abad XVII – XIX) para ahli filsafat Barat di Eropa, menerjemahkan filsafat Tiongkok ke dalam bahasa Latin dan Jerman.

Dalam studinya yang intensif, Zenker mengungkap secara luas dimensi filsafat Tiongkok, sebagai buah pikir dan peradaban Timur yang telah berkembang lebih dari 20 abad sebelum kelahiran Isa almasih, atau 20 abad sebelum Masehi. Inilah yang memelihara kebudayaan Tiongkok berkembang melintasi masa, dengan berbagai dialektika, termasuk resistensi di setiap jamannya.

Dr. Mohd Gallab yang mendalami filsafat Timur, misalnya, menegaskan kuatnya filsafat Tiongkok dalam memengaruhi perkembangan peradaban dan kebudayaan manusia di dunia. Di dalamnya mengandung dimensi moral dan etika yang baik dan kokoh. Karenanya, filsafat Tiongkok dikatakan juga sebagai filsafat yang berjiwa. Inilah yang menyebabkan Tiongkok, pada masanya eksis sebagai bangsa yang besar dan berpengaruh di dunia.

Akan halnya Suzuki, seorang pemikir Jepun dalam Sejarah Filsafat Tiongkok (1914), menyebut, kekuatan filsafat Tiongkok justru terletak pada kekuatan moral atau etika sosialnya. Yaitu pada pemikiran Kong Hu Chu (Confucius) dan Meng Tse (Mencius). Kedua failasuf ini, menjadi sumbu peradaban dan budaya Tiongkok.

Eliminasi Pemikiran Barat

Di banyak studi tentang filsafat Tiongkok, pertanyaan yang kerap muncul adalah: sungguhkah akhlak yang melandasi peri kehidupan bangsa Tiongkok di masa lampau, bermakna peradaban (civilization), sebagaimana makna akhlak yang disempurnakan dimensi kualitasnya melalui pengutusan Muhammad SAW sebagai Rasulullah? Dalam konteks penugasan Allah kepada Rasulullah Muhammad SAW untuk menyempurnakan peradaban (innamaa buisthu lii utammima makaarimal akhlaq), inikah Rasulullah memerintahkan umat manusia belajar hingga ke negeri Cina? Pertanyaan ini memang tak banyak memperoleh jawaban.

Namun demikian, berbagai studi menunjukkan, pada abad XIX para propagandis Masehi yang bekerja di Tiongkok, melihat kuatnya dimensi akhlak dalam konteks peradaban itu. Para propagandis ini lalu sampai kepada kesimpulan, jauh sebelum Isa alaihissalam dan Muhammad SAW memperoleh perintah Allah untuk menyampaikan ajaran Ilahi guna menyempurnakan peradaban manusia, Allah telah memilih manusia Tiongkok sebagai penerima wahyu suci-nya. Persis seperti orang Israil dipilih Tuhan untuk menerima wahyu itu.

Mereka menyebut, Shang Ti yang kerap disebut dalam berbagai kitab spiritual bangsa Tiongkok, adalah sama dengan Tuhan dalam kitab orang Yahudi. Hal itu mereka yakini, setelah mereka menghubungkan sejumlah kitab spiritual Tiongkok dengan Taurat, khasnya yang berhubungan dengan akhlak sebagai peradaban. Menyangkut kepercayaan yang relevan dengan agama, moralitas (etika), dan bahasa.  Meski demikian, mereka meyakini, bahwa hingga abad ke 19 perkembangan filsafat dan peradaban Tiongkok atau Tionghoa belum mendapat perhatian.

Dicurigai, para pemikir dan filosof Barat, telah mengeliminasi dan mereduksi perkembangan peradaban dan pemikiran Tiongkok. Terutama, karena para pemikir dan filosof Barat tidak mengutamakan dimensi akhlak dalam kehidupan umat manusia. Bahkan mentransformasi pemikiran materialisme ke dalam kebudayaan dan peradaban Tiongkok. | N. Syamsuddin Ch. Haesy

Post to Twitter Post to Facebook

 

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.