Berkah Matano di Penambangan Nikel Luwu Timur

Thursday, September 25, 2008 7:04
Posted in category Cawandatu

MATANO, dalam bahasa Dongi, bermula dari mata ano atau mata air. Inilah danau alam terdalam di Asia Tenggara, danau terdalam kedua di dunia. Kedalamannya, mencapai 200 meter di bawah permukaan laut, terletak pada ketinggian 500 meter di atas permukaan laut. Mata air yang memenuhi danau Matano, terjadi sebagai akibat pergerakan tektonik, lipatan dan patahan litosfir. Danau Matano terletak di kecamatan Nuha – Kabupaten Luwu Timur, persis terletak di Sorowako. Berbatasan dengan Sulawesi Tengah.

Danau Matano dilintasi sungai Larona, yang airnya mengaliri juga Danau Mahalona dan Danau Towuti di Kecamatan Towuti. Di antara ketiga danau itu, Danau Towuti merupakan Danau terbesar dan Danau Mahalona merupakan Danau terkecil. Panorama indah danau Matano, mengundang hasrat untuk melakukan olah raga air, mulai dari renang, ski, dan juga snockling. Danau ini, merupakan satu dari tiga danau (selain Matano, Mahalona, Towuti) merupakan berkah bagi Kabupaten Luwu Timur dan PT INCO. Apalagi, danau ini terletak di dalam kawasan kontrak karya pertambangan nikel PT INCO.

Di sekeliling danau inilah, perusahaan penambangan internasional asal Kanada, itu membangun camp untuk karyawannya. Termasuk mengubah desa Sorowako menjadi kota kecil yang damai dan indah. Di perbukitan Salonsa, PT INCO membangun kompleks perumahan dan perkantorannya, termasuk community center.

PT INCO menyadari betul keberadaan Danau Matano. Tak hanya sebagai sumberdaya energi yang harus dikelola untuk memenuhi berbagai kebutuhan proses pengolahan industri penambangan. Danau yang indah ini, juga dikelola sebagai “ruang ventilasi” bagi karyawan PT INCO dan keluarganya. Pada waktu-waktu tertentu, aktivitas wisata air Danau Matano berlangsung di pantai Old Camp, Idee di Pontada, pantai Kupu-Kupu di Nuha, Tapulemo, dan desa Matano.

Danau ini emang unik, terutama, karena letaknya di antara perbukitan. Keunikan lain danau ini adalah komposisi kimia, dan flora-fauna endemik yang tidak berubah, sejak tahun 1930. Hutan di sekitar danau ini, menyimpan ribuan spesies anggrek, rotan, dan berbagai tanaman non kayu. Termasuk pohon dengen yang berpotensi untuk diolah sebagai minuman ringan segar. Di hutan sekitar danau inilah berkembang biak Anoa, hewan khas Sulawesi. Beberapa organisasi lingkungan hidup internasional, mengusulkan danau Matano dijadikan sebagai world Heritage.

Oleh PT INCO, ketiga danau (Matano, Mahalona, Towuti) dimanfaatkan sebagai sumber energi. Melalui sungai Larona, dibangun tiga pusat listrik tenaga air (PLTA), masing-masing: PLTA Larona, PLTA Balambano, dan PLTA Karebbe. Sungai Larona mengalir menjadi sungai Malili, yang bermuara di Teluk Bone. PLTA Larona dan Balembano telah lama beroperasi. Akan halnya PLTA Karebbe masih dalam proses, dan baru berjalan kembali pembangunannya, setelah 2 (dua) tahun terhenti sementara, karena berbagai musabab.

Akan halnya keunikan danau Mahalona, terletak pada posisinya yang sangat khas, karena letaknya yang lebih rendah dari dasar laut, dengan lipatan yang langka di dunia. Lipatan dan patahan litosfir yang membentuk danau ini, hanya dilampaui oleh lipatan dan patahan litosfir di laut Mati. Kondisi yang terbentuk dari isotermal di danau ini, menyebabkan terjadinya perbedaan suhu antara permukaan dan dasar danau. Karena itu, kecerahan danau ini mencapai hingga 23 meter. Kondisi ini tidak ditemukan pada danau lain di Asia Tenggara, bahkan di danau-danau Matano dan Towuti.

Keberadaan sumberdaya alam lain yang dapat dieksplorasi menjadi sumber energi (listrik, misalnya), merupakan penunjang strategis keberlangsungan industri pertambangan. Proses pengolahan dan pemanfaatannya sumber energi, mesti bermanfaat, tak hanya bagi kepentingan proses produksi belaka. Melainkan juga untuk kepentingan masyarakat di sekitar pertambangan.

Dalam konteks pemanfaatan danau, sungai, dan sumberdaya alam potensial untuk dikembangkan sebagai sumberdaya energi, benar apa yang dikatakan H. Andi Hatta Marakarma, bupati Luwu Timur. Sejak awal industri pertambangan sudah harus memasukkan kemanfaatan sosial dalam masterplan-nya”, seru Andi Hatta. Bahkan, ungkapnya, sejak awal sebelum dilakukan proses penambangan, masyarakat sudah harus disiapkan untuk berinteraksi dengan beragam perubahan (termasuk perubahan sosio kultural) yang ditimbulkan.

Tak terkecuali proses transformasi peradaban tanpa menghilangkan kearifan dan kecerdasan lokal. Masyarakat sekitar tambang, harus dikondisikan sebagai sumberdaya manusia yang mampu berfikir, bersikap, dan bertindak menjamin sustainabilitas kehidupan masyarakat, usai suatu lapangan pertambangan ditutup.

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.