Memahami Imajinasi
Wednesday, October 8, 2008 22:37IMAJINASI atau imajinasi, sesungguhnya telah diakrabi oleh sedemikian banyak manusia. Kendati demikian, pemahaman atas imajinasi, masih cenderung disalah-tafsirkan. Sebagian besar orang memahami imajinasi sebagai khayalan, yang sesungguhnya merupakan ilusi dan fantasi. Keduanya berbeda dengan imajinasi. Dari histetymoly, kata yang mulai dipergunakan sejak abad ke 14 dalam kosakata middle English dan Anglo-French (imagination), berakar pada bahasa Latin: imaginatio (dari imaginari).
Imajinasi dapat dipahami sebagai sumber dan dinamika kekuatan tersembunyi yang menggambarkan kekuatan citra realitas kedua yang dapat diwujudkan menjadi kenyataan dalam hidup sehari-hari. Karenanya, imajinasi sering juga dipahami sebagai abilitas kreatif, dan atau abilitas untuk menghadapi aneka masalah. Imajinasi bertahta pada otak dan pikiran yang aktif dan merespon dinamika hasrat insani setiap manusia. Pada sebagian manusia, imajinasi merupakan kreasi yang didorong oleh kebernasan pikiran. Kemudian membuahkan beragam kreasi hidup manusia dalam proses pengembangan dayacipta, yang memiliki jarak tertentu dengan beragam asumsi yang dilahirkan oleh obsesi-obsesi. Bisa juga dikatakan, imajinasi sebagai sketsa dari suatu realitas yang belum ada, menjadi ada.
Albert Einsten sejujurnya menyebut, imajinasi memandunya keluar dari ruang empirisma, ketika aneka teori ilmu fisika tak lagi sanggup menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berkembang di benaknya. Tak mampu menjawab realitas keunggulan seorang bocah lima tahun yang fasih memainkan karya-karya Bach dan Beethoven sebagaimana dialaminya di Turki. Saat Turkishmart, mengalun melalui jemari lentik bocah yang frame rasio dan logika, dan pengalaman instinktif-nya masih sedemikian murni. Beragam teori fisikanya, menurut Einsten menemukan kebuntuan, dan dibatasi oleh dimensi ruang dan waktu. Akan halnya imajinasi tumbuh dan berkembang kapan saja dan di mana saja.
Mimpi melahirkan ilusi, fantasi, dan imajinasi. Ilusi merupakan khayalan yang berkembang dan merasuk ke dalam otak manusia, sebagai pengembangan mimpi. Deskripsi abstraktif tentang sesuatu keadaan yang ditimbulkan oleh besarnya hasrat ideal yang tak diperolehnya di alam realis. Ilusi merupakan silap mata atau fatamorgana, yang bersifat hayali dan hanya bisa dialami di alam bawah sadar.
Akan halnya fantasi, merupakan eksplorasi mimpi yang berkembang di luar empirisma nalar manusia, dan terbebas dari berbagai indikator dan para meter realitas hidup pertama. Akan halnya imajinasi, merupakan pengembangan (dreams development) yang terukur, memenuhi indikator dan parameter imaginary. Parameter dan indikator realitas untuk mewujudkan mimpi dan angan-angan menjadi kenyataan.
Imajinasi yang memenuhi parameter imaginary: manageable, feasible, dan realible, berkembang menjadi imagine. Suatu kerangka abstraksi idealistika kehidupan nyata (cita-cita) yang dapat diwujudkan pada suatu kurun waktu (time line) tertentu, berdasarkan sejumlah kekuatan pendorongnya.
Imajinasi bukan khayalan, melainkan deskripsi abstrak dan ideal dari gagasan, ide, dan mimpi yang dapat diwujudkan. Karena itu, imajinasi memadukan secara serasi dan selaras intuitive reason dalam realitas pertama kehidupan. Buah nalar di luar empirisma yang bisa diubah menjadi pengalaman empiristis. Baik dirangsang oleh persentuhan indria terhadap sesuatu yang sudah ada, ataupun penghampiran nalar terhadap sesuatu yang sebelumnya tidak ada.
Dalam tradisi keilmuan, imajinasi dapat dipahami dari pengalaman non empiris dan empiris Newton yang menemukan dalil tentang grafitasi bumi, juga pada apa yang dialami Archimides untuk merumuskan teori tentang daya tolak dan daya tekan benda padat terhadap air, sebagaimana Thomas Alfa Edison ketika merumuskan energi listrik. Serta berbagai teori lain yang bermula dari pengembaraan ke ruang abstraksi natural law.
Kesemua hal yang dulunya terkungkung oleh rumusan baku dari proses penemuan imajinatif, mendorong manusia berfikir secara multidimensional. Terutama, ketika tuntutan hasrat dan kebutuhan manusia secara ekonomi tak bisa dikendalikan. Maltus boleh bicara panjang lebar ihwal laju pertumbuhan penduduk berbanding dengan laju pertumbuhan ekonomi. Rustow boleh berkicau ihwal asas pemerataan dalam pembangunan ekonomi, dan sulit membebaskan diri dari jerat ilusi tentang supply dan demand dalam teori ekonomi klasik. Para imagineer tak pernah berhenti menghadapkan abstraksi imaginasi dengan realitas yang telah, sedang, dan akan (harus) dihadapi manusia, untuk membebaskan diri dari kungkungan keterbatasannya.
Terutama, ketika industri menjadi pilihan, yang tak peduli lagi pada kotak-kotak ideologi paradoksal tentang eksistensi manusia sebagai homo faber dan homo economicus. Imajinasi adalah ruang bebas, tempat setiap manusia menghargai dirinya dan memuliakan Tuhan. Merancang dinamika kehidupan secara cerdas dan (tentu) bertanggungjawab. Memberi makna atas otak untuk memenuhi eksistensi manusia (sebagaimana ditugaskan Tuhan) sebagai pengelola alam semesta.
Dimuat di Harian Jurnal Nasional, 080108
Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.







