Wisky
Wednesday, October 8, 2008 22:40JELANG detik-detik Tahun Baru, sebagian orang memilih jalan melakukan kontemplasi, merenung diri, melakukan evaluasi atas kinerjanya sepanjang tahun. Kemudian memprediksi apa yang kudu dilakoninya pada tahun depan. Tak sedikit juga yang menghabiskannya dengan anak-anak yatim dan orang-orang miskin. Berbagi rasa, berbagi sukacita. Memberi makna atas kebersamaan dalam konteks yang lebih luas, karena waktu tak pernah tertambat pada suatu waktu.
Kendati demikian, masih lebih banyak lagi khayalak yang menghabiskannya dengan pesta pergantian tahun, yang sukacitanya hanya bisa dinikmati segelintir orang. Topeng, terompet penanda tahun, minuman beralkohol yang memabukkan, tarian sesuka hati, dan musik hingar-bingar mewarnai momentum yang mestinya ditandai dengan perubahan. Orang Prancis bilang, Chacun son gout (baca: syakang song gu). Selera orang berbeda-beda. Karenanya, tak bisa seseorang memaksakan selera pribadinya menjadi selera orang lain.
Saya juga punya selera sendiri, seperti Anda mempunyainya. Untuk menghormati teman, saya menghadiri pesta pergantian tahun yang digelarnya. Aneka minuman beralkohol bertebaran di mana-mana. Ada bir, wisky, dry gin, dan bermacam jenis lagi. Teman-teman sekolah dulu, nikmat sekali menenggak minuman yang mereka suka. Wisky, paling favorit untuk sebagian mereka. Khusus untuk saya, dan beberapa teman lain, tuan rumah menyediakan soft drink dan air mineral. “Sobat kita satu ini, tentu tak akan memilih wisky,” ujarnya sambil terkekeh. “Silakan-silakan, pilih saja sesuka hati, anggap aja di rumah sendiri. Faites comme chesvous,” katanya berseru.
Tentu saja, saya tak akan memilih wisky. Selain haram menurut ajaran agama yang saya anut dan saya sangat yakini kebenarannya, wisky membuat saya mabuk. Pendek kata, saya takut meminum wisky, lantaran khawatir melayang-layang di alam khayal sambil sempoyongan, dan tak bisa berpijak di bumi realitas. Bagi saya, wisky dan minuman sejenisnya lebih banyak mudaratnya, ketimbang manfaatnya. Paling tidak, saya menolak memilih wisky lantaran tak mau mabuk.
Tradisi budaya Jawa mengenal malima: madat (alias mabuk), main, madon, maling, dan mateni. Lima perbuatan buruk yang kudu dihindari oleh siapa saja. Malima, kontekstual satu dengan lainnya. Mabuk, berjudi, melacur, mencuri, dan membunuh, adalah perbuatan buruk yang bisa merontokkan hidup manusia. Mabuk -apalagi mabuk tahta, harta, dan wanita- membuat orang mudah berjudi, mencuri, dan membunuh.
Mereka yang mabuk tahta, misalnya, sering kehilangan kontrol, mengajak orang ramai ikut tenggelam dalam perjudian nasib, keluar dari realitas pertama kehidupannya dengan cara yang bahkan konyol. Mereka merusak tatanan kehidupan sosial, meracuni masyarakat luas dengan berbagai informasi sesat yang menyesatkan. Membentuk kelompok-kelompok kepentingan (termasuk invisible hand group), menciptakan dan melakukan black campaign atas orang lain, terutama membunuh karakter (character assasination) dengan beragam taktik dan strategi. Bahkan, secara simbolistik, mengajak serta berbagai kalangan (tak terkecuali mereka yang terbilang intelektual dan akademisi dengan serenceng gelar akademik) terjebak aksi melacurkan diri (madonisma). Dalam banyak hal, mereka yang mabuk tahta, harta, dan wanita, selalu punya kecenderungan maling. Dari kolusi sampai korupsi.
Jadi? Saya pilih air mineral sajalah! Selain tak memabukkan, dan membuat saya bisa mengendalikan diri untuk tidak melacurkan diri, tidak berjudi, tidak maling, dan tidak membunuh. Air mineral itu menyehatkan.
Dimuat di Harian Jurnal Nasional 030108
Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.







