Ihwal Malili dan Suku Padoe di Luwu Timur

Thursday, September 25, 2008 8:27:: 315 views ::
Posted in category Cawandatu

SUNGAI Malili nampak tenang. Air yang mengalir dari kaki pegunungan Verbek, itu bagai menyimpan cerita dan kisahnya sendiri. Perahu hilir mudik, mengantarkan mereka yang pulang pergi ke pasar. Sebuah jembatan gantung tua yang menghubungkan penduduk di dua tepian Malili, telah lama tak berfungsi, dan menjadi kenangan tersendiri, bagaimana sejarah peradaban meninggalkan berbagai catatannya.

Adalah Malili, kota kecamatan yang kini menjadi ibu kota Kabupaten Luwu Timur. Kota yang mempunyai catatan panjang sebagai salah satu sentra peradaban penting di Sulawesi Selatan, sejak Batara Guru membuka ruang, bagi tersimpulnya secara harmoni hubungan manusia dunia di atas” , dan “dunia di bawah”. Kota yang dulu ditinggalkan Sawerigading, yang pergi mengembara menemukan jati dirinya sebagai lelaki. Meski kecil saja, Malili kini terkenal, bahkan hingga ke Eropa, Asia, Australia, dan Kanada. Baik karena Ila Ga Ligo, karya sastra tanah Luwu menjadi khazanah sastra dunia yang penting. Juga, karena pertama kali para ahli pertambangan asing, mendarat dan bermukim untuk mengolah pertambangan nikel, yang kini diusahakan oleh PT INCO Tbk.

Mereka bersentuhan dengan Malili, sebelum Sorowako menjadi pilihan permukiman mereka, hingga kini. Antara lain, mereka tinggal di losmen-losmen sederhana, yang masih eksis hingga kini. Antara lain, Losmen Sederhana. Tuhan seolah menakdirkan, Malili sebagai ibu kota Luwu Timur yang kaya karena potensi tambang, perkebunan, dan perikanannya.

Salah satu bagian dari masa silam Bumi Batara Guru adalah eksistensi Suku Pado’e, yang mendiami daerah pegunungan dan lembah Verbek, dan dikenal pamornya pada abad ke 14. Dari Malili, suku ini menyebar ke Kawata, Mangkutana, Pakatan, Wasuponda, Wawondula, Tabarano, Lioka, Togo, Balambano, Soroako, Landangi, Matompi, Timampu, Karebe, dan lainnya.

Pongkiari

PADA masanya, Malili dikenal sebagai daerah para Pongkiari. Ksatria pemberani. Merekalah yang membantu Datu Luwu, menghadang musuh dari Selatan. Keberadaan Pongkiari, memberi nilai lebih atas eksistensi suku Padoe. Karenanya tidak berkewajiban memberikan upeti kepada kerajaan. Mereka juga disebut sebagai pengawal alam, yang di dalamnya tersimpan potensi tambang nikel dan bijih besi sedemikian besar. Kawasan tambang yang mengelilingi Danau Matano yang terdalam, Towuti yang terluas, dan Mahalona yang terelok.

Ketika para peneliti pertambangan nikel pertama kali masuk ke lembah dan perbukitan di kaki pegunungan Verbek, konon Suku Padoe telah meninggalkan kawasan itu. Apalagi, ketika gerakan perlawanan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia Kahar Muzakkar, menguasai kawasan ini. Konon, mereka pergi ke Beteleme, Poso, Parigi, dan Taliwan. Baru, setelah itu, mereka datang kembali dan mencoba berinteraksi dengan masyarakat lain yang sudah mendiami kawasan yang sebagian besarnya adalah kawasan tambang nikel. Tak lama setelah INCO mulai membuka kawasan pertambangan.

Saat investor tambang nikel masuk ke wilayah suku Padoe, sebagian besar penduduk asli sudah mengosongkan daerah wilayah mereka. Lalu, 10 tahun kemudian saat dirasa kondisi sudah aman, banyak eksodus kembali ke tanah nenek moyang mereka namun kesulitan melanjutkan hidup akibat tanah yang telah berubah fungsi menjadi daerah tambang.

Ketika kembali ke tanah leluhurnya, mereka mesti banyak beradaptasi dengan lingkungan sosial baru. Sampai akhirnya, tahun 1970-an, tergagas dan berdirilah Pasitabe. Organisasi adat, yang mengurus segala hal ihwal kepentingan Suku Pado’e. Tak berapa lama lagi, boleh jadi Malili akan menjadi ibu kota kabupaten yang elok di Sulawesi Selatan. Kompleks perkantoran Pemerintah Kabupaten Luwu Timur, seolah ingin menyatakan pada dunia, awal dari penataan wajah baru, kota di lintas Sulawesi, itu…

Post to Twitter Post to Facebook

 

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.