Stop Pembebalan Lewat Sinetron

Thursday, November 13, 2008 13:53
Posted in category Klap

TAK banyak perubahan dalam pola fantasi produser sinetron kita. Meski lumayan memadai sinetron yang mencerdaskan dan mencerahkan khalayak pemirsanya, tapi programa siaran sinetron di hampir seluruh televisi kita, masih saja menjadi wahana pembebalan publik.
Tak hanya mereduksi dimensi pemahaman kita tentang cinta. Tapi, bahkan menawarkan tema cerita, plot, dialog, setting sosial, dan atmosfir yang membebalkan.

Konsep dramatika dan dramaturgi yang disajikan, relatif tidak berubah sejak lebih dua dasawarsa terakhir. Selalu difasilitasi oleh format konflik personal dan sosial secara diametrik. Dan khalayak pemirsa, yang sebagian terbesar memerlukan proses edukasi sosial, terseret ke dalam jebakan ilusi dan fantasi yang mengerikan.

Kita boleh heran, mengapa konsep logika para produser dan sebagian pekerja sinetron kita tak mau belajar dari karya-karya film dan sinetron yang baik, positif, dan mencerahkan? Seolah-olah kita tak pernah mempunyai daya untuk berubah menjadi lebih baik. Tengoklah beberapa sinetron kita yang sedang tayang saat ini, formatnya relatif sama. Bergerak di antara dua sisi: Karissa dan Cinta Fithri. Paradoks nestapa dan bahagia yang diletakkan secara diametrik. Dan kemudian menawarkan persepsi tentang hidup yang selalu abu-abu, buram, dan samar.

Struktur logika untuk mencapai akhir cerita yang happy ending, sedemikian kuat dikuasai oleh begitu banyak improvisasi yang sesungguhnya tidak perlu. Karena kian cerita diperpanjang dan dibuat berliku plotnya, kian kuat kesan pembebalan itu.

Kategori dan kriteria

DARI begitu banyak teori pengembangan artistik, estetik, dan etik produksi film (termasuk sinetron), termasuk metode penyutradaraan, terdapat begitu banyak metode yang berujung pada pencerahan. Mulai dari bagaimana mengelola informasi tentang tokoh, sampai pengembangan aspek-aspek dramatik para pemain, sehingga tetap terkendali irama dan dinamikanya (terutama selaras dengan ricing action dan emotional suspense). Termasuk tata kelola situasi dramatik, untuk menentukan berbagai momen. Misalnya pilihan terhadap momen klimaks dan anti klimaks.

Dari aspek penceritaan, struktur plot, desain cerita, pemetaan dan proyeksi pengembangan watak para tokoh, pun begitu banyak metode yang bisa dipilih. Apalagi untuk sinetron seri dan serial. Kita tak keberatan format dan formula telenovela dan bollywood dijadikan model. Namun, semestinya, sejak awal dipahami, bahwa format dan formula itu harus hidup di tengah konsep nilai sosial dan kultural masyarakat.

Rumah Masa Depan, Jendela Rumah Kita, Kedasih, Halimun, Pulang, Naga Bonar, Si Doel Anak Sekolahan, Mat Angin, Balada Dangdut, Adillah, Keluarga Cemara, Kiamat Sudah Dekat, Lorong Waktu, Para Pencari Tuhan, dan lainnya, termasuk film Surat untuk Bidadari, Bulan di Atas Bantal, Petualangan Sherina, dan Laskar Pelangi, sesungguhnya dapat dijadikan model yang menarik. Terutama, karena sinetron-sinetron ini menawarkan ruang dialog yang menarik, dan sekaligus mencerdaskan khalayak pemirsanya.

Untuk melayani khalayak pemirsa dan tidak melakukan pembebalan terhadap mereka, semestinya, pengelola siaran televisi juga kembali kepada pola yang lebih bertanggungjawab. Mereka perlu merumuskan ulang kategori dan kriteria kelayakan dan kepatutan suatu sinetron menjadi materi programa siaran televisi. Bukankah sudah terbukti, bahwa beberapa sinetron dan film seperti di sebut di atas, berhasil meraup keuntungan komersial tanpa harus mengorbankan mision asasinya?

Dari pengalaman mengelola programa siaran televisi selama ini, baik di Indonesia maupun di Malaysia, penegasan kategori dan kriteria kepatutan dan kelayakan itu menjadi sedemikian penting dan utama. Karena akhirnya, kekuatan artistik, estetik, dan etik yang teritegrasi ke dalam keseluruhan struktur logika cerita, plot, karakterisasi, pengadeganan, dan mindset governance, terbukti mampu mendatangkan keuntungan yang besar. Baik bagi stasiun televisi maupun bagi produser. Jadi? Stop pembebalan pemirsa. | N. Syamsuddin Ch. Haesy.

 

One Response to “Stop Pembebalan Lewat Sinetron”

  1. mazden says:

    November 19th, 2008 at 2:49 am

    setuju pak
    sangat disayangkan justru sinetron2 yg lebih digandrung masayarakat saat inii malah sinetron2 “kelas teri”,
    jadi prihatin
    untung saya ga punya TV
    ^^

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.