Testimonial
- Sila Tulis Testimoni -
(49)
Alhamudulliah. Nuhun Gusti. Dengan perantaraan Reza, kakak kelas anak bungsu Bang Sem di UI, Akhirnya aku dapat berbicara via telepon dengan Teh Yudi (Bukan Teh Ety seperti kutulis dalam Testimoni terdaulu. Teh Ety adalah kakak kandung Teh Yudi. Hampura...), wanita impian Bang Sem yang kini telah menjadi ratu dalam arti yang sesungguhnya dalam "kerajaan" Bang Sem. Sebelum menyebut nama, aku "memperkenalkan diri" kepada Teh Yudi dengan sedikit menceritakan sebuah kisah "heroik". Sekitar tahun 1983-an --semasih SMA di Garut, aku mendapat tugas dari Bang Sem untuk mengawal Teh Yudi ke Jakarta, untuk suatu urusan ke Akademi Perawat di Pondok Labu, kalau tidak salah. Tugas ini cukup menyenangkan karena menjadi muhibah kesekian kali aku menjejakan kaki kembali di Ibukota.
"Siapa ya?" terdengar suara datar Teh Yudi.
"Saya Herman, murid Bang Sem di Garut," sahutku antusias.
"Iya, dia sekarang suamiku," sahut lagi Teh Yudi, ada nada bangga di dalamnya.
Setelah sekilas berbincang tentang kabar dan kesibukan masing-masing, aku mengakhiri perbincangan. "Nuhun, Teh. Salam buat Bang Sem," pesanku.
Tuntas sudah secuil mimpiku selama puluhan tahun ini untuk berbincang dengan Teh Yudi. Karena, besar atau kecil, dalam pasang surut karierku di dunia teater di masa lalu dan jurnalistik sekarang ini, tidak bisa dilepaskan dari sosok Teh Yudi, Teh Ety, Bang Sem, Bang Jeddi, dan keluarga besar Sanggar Limanov Garut. Dengan segala keterbatasannya Sanggar Seni ini telah cukup banyak memasok jurnalis, aktor, penyair, dan entertainer andal ke pentas nasional, antara lain, seperti Dian Samudera bersudara, Ida Danu Epy "Suparman" Kusnandar dan Eveleyn Ridha Avenina Ratih. Yang lebih berkesan lagi, karena kesediaan Bang Sem berkorban jauh-jauh dari Jakarta mengajar di Sanggar Limanov pada tahun-tahun itu, tidak berlebihan kiranya jika Sanggar ini juga telah melahirkan pasangan keluarga yang sakinah, mawadah, waromah abad ini: Syamsudin Chatib Haesy dan Yudiastuti AR. Insya Allah.
Namun yang cukup memilukan adalah Sanggar Limanov sendiri yang agaknya kini tinggal nama yang sunyi. Kudengar semua penggagasnya telah hijrah ke Ibukota. Sebuah rumah sejuk yang lebat oleh pepohonan merambat di sudut gang Jalan Leuwidaun Garut yang menjadi markas Limanov, pun sudah tiada. Ah pedihnya kenangan!
"Siapa ya?" terdengar suara datar Teh Yudi.
"Saya Herman, murid Bang Sem di Garut," sahutku antusias.
"Iya, dia sekarang suamiku," sahut lagi Teh Yudi, ada nada bangga di dalamnya.
Setelah sekilas berbincang tentang kabar dan kesibukan masing-masing, aku mengakhiri perbincangan. "Nuhun, Teh. Salam buat Bang Sem," pesanku.
Tuntas sudah secuil mimpiku selama puluhan tahun ini untuk berbincang dengan Teh Yudi. Karena, besar atau kecil, dalam pasang surut karierku di dunia teater di masa lalu dan jurnalistik sekarang ini, tidak bisa dilepaskan dari sosok Teh Yudi, Teh Ety, Bang Sem, Bang Jeddi, dan keluarga besar Sanggar Limanov Garut. Dengan segala keterbatasannya Sanggar Seni ini telah cukup banyak memasok jurnalis, aktor, penyair, dan entertainer andal ke pentas nasional, antara lain, seperti Dian Samudera bersudara, Ida Danu Epy "Suparman" Kusnandar dan Eveleyn Ridha Avenina Ratih. Yang lebih berkesan lagi, karena kesediaan Bang Sem berkorban jauh-jauh dari Jakarta mengajar di Sanggar Limanov pada tahun-tahun itu, tidak berlebihan kiranya jika Sanggar ini juga telah melahirkan pasangan keluarga yang sakinah, mawadah, waromah abad ini: Syamsudin Chatib Haesy dan Yudiastuti AR. Insya Allah.
Namun yang cukup memilukan adalah Sanggar Limanov sendiri yang agaknya kini tinggal nama yang sunyi. Kudengar semua penggagasnya telah hijrah ke Ibukota. Sebuah rumah sejuk yang lebat oleh pepohonan merambat di sudut gang Jalan Leuwidaun Garut yang menjadi markas Limanov, pun sudah tiada. Ah pedihnya kenangan!
Ini kali ke sekian aku singgah di blog ini. Sudah ada beberapa revitalisasi, rupanya. Maka akupun ingin nimbrung. Wajah tiga foto di sudut kanan blog ini nyaris tak kukenali. Di banding Bang Sem yang kukenal 30 tahun silam, tampilan sekarang jauh lebih makmur dan lebih berdaya hidup. Hamdalah. Cuma, kalau dari sisi puisi, fiksi, dan opini, tidak sekental karya-karya Bang Sem semasih diketik di ruang remang-remang kamar pengap jalan Leuwidaun, Garut, dulu: sarat imagi dan kaya perenungan. Wajar, kan sekarang sibuk. Namun, kelebihannya sekarang, makin sering menyebut asma Allah. Wajar, kan makin tua. Yang tidak berubah satu: Bang Sem bisa mengetik sederas arus kali Cimanuk Garut atau Ciliwung di waktu banjir. Padahal dulu, cuma pake Brother tua pinjaman dengan kertas buram. Supaya tak bising mengganggu iparnya di tengah malam, dialasinya mesin tik itu dengan sarung butut punya WJS Megantara, kakak iparnya. Dengan mesin tik tua itu pula dia mengetik mas kawin untuk Teh Ety, pacaranya yang mojang Priangan asal Garut: sebuah antologi puisi! Bila mengingat kisah cinta Bang Sem-Teh Ety, siapa mengira mereka akan bahagia. Bahkan, untuk apel pun mungkin hanya sampai ujung Gang Kp Sisir di Garut. Bang Sem tidak takut berpolemik di koran Kompas, tampil garang di panggung membaca sajak huk huk la, atau menggedorkan pertanyaan tajam kepada narasumber penguasa dan pejabat tinggi. Namun, dibanding harus menghadapi calon mitoha alias ibunya Teh Ety dulu, ha ha ha...Bang Sem lebih memilih nulis puisi seribu halaman...Ciut nyalinya. Namun, Subhanallah, semua tinggal kenangan. Istri yang susah payah didapatnya itu kini telah memberinya dua anak cerdas dan usai kuliah. Bang Sem tak harus menjadi penulis lepas dan mengharap honor yang tak pasti. Teh Ety kudengar sukses menjadi PNS di RSCM.
Bang Sem, tak ada hal yang ingin kukatakan dengan melihat kisah ke belakang itu, selain bahwa semua ini adalah hadiah dari Allah untuk lelaki yang setia kepada-Nya. Tabik.
Bang Sem, tak ada hal yang ingin kukatakan dengan melihat kisah ke belakang itu, selain bahwa semua ini adalah hadiah dari Allah untuk lelaki yang setia kepada-Nya. Tabik.
Membaca website pribadi ini, sebagai mahasiswi yang studi berkaitan dengan ilmu politik, wawasan saya bertambah. Mengapa tidak dibukukan tulisan-tulisan ini?
Thx berat I'll. Sukses juga. Pun begitu ya u Rio dan Tussie. Maju terus..
Thx berat I'll. Sukses juga. Pun begitu ya u Rio dan Tussie. Maju terus..
Kabar baik Dhit.. Thx ya Dhiet. Jangan lupa ikuti terus akar padi.
Kabar baik Dhit.. Thx ya Dhiet. Jangan lupa ikuti terus akar padi.
Kumaha Damang Bang Syem..... Semoga dalam lindungan Allah SWT.
Menunggu posting-posting berikutnya bang.... Resolusi 2010 belum tertuang tuh kayaknya..... hahahaha.... terlalu sibuk rupanya.
Sukses selalu dalam segala hal.
Menunggu posting-posting berikutnya bang.... Resolusi 2010 belum tertuang tuh kayaknya..... hahahaha.... terlalu sibuk rupanya.
Sukses selalu dalam segala hal.
Wuiiiiiiiihhh
keren juga webnya yah,,,
oke dah
siip
teruskanlah en tetep semangat
keren juga webnya yah,,,
oke dah
siip
teruskanlah en tetep semangat
seneng bener membaca tulisan bapak. secara tidak disengaja saya menemukan web ini ketika mencari bahan tentang politik bisnis. Kebetulan saat ini saya bekerja pada sebuah BUMN yang sedang kritis dan terpuruk dalam bisnis dan keuangan. mendalami kondisi ini akhirnya saya meyakini politik bisnis memang cukup mumpuni untuk mengangkat kembali potensi perusahaan. so much tekyu atas tulisan ini, saya tunggu tulisan yang berikutnya









