About

Lelaki tak Bersimbol

N. SYAMSUDDIN CH. HAESY, putera Banten kelahiran Jakarta, 8 November 1956. Sejak belia tak pernah henti menjadi wartawan, meski kemudian menjadi brodkaster televisi dan radio. Karenanya, tak pernah berhenti menulis. Mulai dari menulis berita, esai, puisi, dan buku. Waktu luangnya dipergunakan untuk mengajar, menjadi pembicara dalam berbagai seminar, menjadi narasumber berbagai lokakarya tentang imagineering dan perencanaan.

Merujuk kepada apa yang disampaikan Rasulullah Muhammad SAW tentang kewajiban menuntut ilmu sejak dalam buaian ibu, hingga ke liang lahat, ia tak pernah berhenti menuntut ilmu. Dan karena itu juga, sejak awal tahun 1980-an, ia menganut dan menebar keyakinan the schooling society yang digagas pertama oleh Ivan Illich. Mengikuti jejak De Bono, ia mendalami dan merumuskan beragam pemikiran tentang imagineering (rekacita) praktis. Ia juga menggerakkan berbagai upaya dan gerakan, mengubah minda masyarakat tentang pendidikan, yang dengan berbagai ‘gelar akademik’ yang disediakannya, telah merampas hakekat dan makna pendidikan yang asasi. Karena dalam realitas hidup, yang terpenting bukanlah ijazah, sertifikat, dan gelar akademik. Melainkan aplikasi penguasaan sains dan teknologi dalam kehidupan, sehingga membawa manfaat dan maslahat bagi kehidupan umat manusia.

Pendidikan sebagai cara hidup mendudukan manusia dalam konteks kualifikasi insaniah yang cerdas, kreatif, dan bijak, tidak boleh menjadi jalan untuk memelihara feodalisma. Gelar akademik dalam keseluruhan konteks masyarakat yang terikat oleh sistem relasi korelasi sosial yang clientelistic, menyebabkan pendidikan terkontaminasi sebagai jalan feodal di tengah kehidupan yang demokratis dan (seharusnya) egaliter. Karena Tuhan sendiri menempatkan manusia dalam keseluruhan konstelasi sosialnya, berada dalam kesetaraan. Yang menjadi pembeda sekaligus penguat relasi antar manusia adalah ketakwaan dan ilmu pengetahuan.

Syam, yang biasa dipanggil Bang Sém, sampai pada simpul kesadaran personal, bahwa posisi terbaik manusia, adalah menjadi manusia yang mempunyai integritas. Bukan jabatan. Keyakinan inilah yang ia tawarkan kepada anak-anaknya, agar mereka berkembang menjadi dirinya sendiri. Kini, setelah merambah ilmu pengetahuan ke berbagai negeri, ia berkutat dengan kearifan dan kecerdasan lokal. Berbasis akademis sosiologi dan filsafat, untuk merambah masa depan, ia justru lebih yakin dengan religi katimbang filsafat.

Berbagai karyanya tersebar dalam berbagai buku dan karya videotik, antara lain: Rembulan Selesma, Sangkakala Padjadjaran, Mengapa Partai Islam Kalah (ed. Hamid Basyaib), Kreatografi Sys NS (bersama Gaury Nasution), Gumaman dari Balik Layar, Suara dari Pedestrian, Gelitik Uang Plastik, Mati Hidup Susah di Jakarta, Pondokan, Lintasan Sinetron TVRI, Balada Dangdut, Seribu Purnama, Sajadah Keikhlasan, Dinamika Etik Politik Malaysia, Memancing Kebajikan, Menjemput Masa Depan, beberapa episode seri Gerbang Penantian, Visi tele-Visi (kumpulan artikel di Jawa Pos), dan berbagai manuscript.

Bang Sem juga terlibat dalam pergelaran Semarak Dangdut 50 Tahun Indonesia Emas (1995), Lhanglhang Buana: Tourshow musik Rock dan Dangdut (1995). Beberapa kali menjadi anggota tim seleksi Festival Film Indonesia, dan Festival Sinetron Indonesia. Sempat juga menjadi penanggungjawab produksi film dokumenter Anak Seribu Pulau (Garin Nugroho), dan berbagai produk lainnya. Sekaligus mendesain begitu banyak program siaran televisi. Kini ia sedang merampungkan sejumlah buku dan rancangan program televisi, yang dikategorikannya sebagai ‘bekal hari tua’. Ia teramat bangga, setiap kali orang mengenalinya sebagai ‘lelaki tanpa simbol’.• Muhammad Khairil






SEKILAS AKAR PADI ATAWA AKAR UMBI

Akar padi dan akar umbi adalah dua istilah yang satu dengan lainnya saling melengkapi. Esensinya adalah beragam ihwal tentang cara pandang masyarakat kebanyakan tentang berbagai hal. Akar padi dan akar umbi, diniatkan sebagai proses transformasi pemikiran tentang berbagai hal yang berorientasi pada upaya memuliakan kecerdasan, kearifan, dan kesegaran pemikiran, dari berbagai fenomena dan paradigma kehidupan sosial masyarakat sehari-hari. Meski di dalamnya, mengalir juga berbagai pemikiran kritis untuk mengajak siapa saja melakukan refleksi untuk menempatkan kaum akar padi dan akar umbi sebagai subyek. Khususnya dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Mudah-mudahan kehadiran Akar padi Akar Umbi ini, membawa manfaat, bagi siapa saja yang mengunjunginya.

Terima kasih.

(Bang Sém)





Situs ini dikelola oleh:

penanggungjawab N. Syamsuddin Ch. HAESY

manajemen Muhammad Haekal HAESY

redaksi Muhammad Khairil HAESY

pengembangan Noviar INDRIAWAN

teknologi Informasi & desain Darson LIM